Kamis, 25 November 2010

putra mahkota

Putra Mahkota; Mereka Menanti Tahta

Sejak lahir,jalan hidup mereka sudah diarahkan menjadi raja.Namun,mereka menghabiskan puluhan tahun dalam hidupnya untuk menunggu dan menunggu untuk dinobatkan menjadi raja.

MASA depan anak-anak ini adalah menjadi raja, panutan, pemimpin, dan penerus kejayaan monarki di era modern. Calon-calon raja ini, seperti tidak punya pilihan lain dalam kehidupannya, selain menjadi simbol negara. Namun, ada beberapa putra mahkota yang justru ditunggutunggu rakyat agar secepatnya berkuasa. Umumnya, rakyat menginginkan pemimpin yang segar dan membawa pembaruan bagi negara.

Meski hanya bermain di tataran simbolis, tapi pancaran aura spiritual dan karisma kepemimpinan putra mahkota itu mampu mengharmonisasikan dan menstabilkan kondisi kerajaan. Salah satu putra mahkota yang dinanti rakyat dan sedang menanti tahta adalah Willem-Alexander. Beberapa tahun lalu, saat merayakan ulang tahunnya yang ke-40,dia mengaku tak tahu kapan akan duduk di singgasana raja.

Dan, jika kelak pangeran kelahiran 27 April 1967 itu dinobatkan sebagai raja, dia ingin menjadi seperti ibunya, Ratu Beatrix, yang mampu memainkan peran sebagai pemersatu masyarakat. Berdasarkan jajak pendapat yang digelar pada Februari lalu,Pangeran Oranje, julukan Willem, adalah pangeran yang dicintai rakyat. Sekitar 70% rakyat Belanda ingin Ratu Beatrix mengalihkan singgasana kepada Wilem-Alexander dalam tiga tahun.

Sekitar 80% rakyat Belanda setuju bahwa sang pangeran yang berusia 43 tahun itu,layak menduduki tahta. Selain Willem, Shaikh Salman bin Hamad bin Isa Al-Khalifa yang ditunjuk sebagai putra mahkota Bahrain sejak tahun 1999, juga sangat dinanti-nanti rakyatnya. Dia dikenal sebagai pembaru di negaranya. Meski belum menjadi raja,pria yang berusia 40 tahun itu, menggebrak sistem perekonomian Bahrain menjadi lebih liberal.

Dia mendorong kebebasan berinvestasi dari luar negeri untuk mengembangkan ekonomi di negaranya. Menurut dia, kemajuan suatu negara tidak hanya ditentukan negara itu sendiri. Reformasi ekonomi itu dilakukan Salman melalui Dewan Pembangunan Ekonomi yang dipimpinnya 3 Maret 2002. Melalui lembaga yang dipimpinnya, dia bertanggung jawab memformulasikan strategi pembangunan ekonomi.

“Saya ingin menarik langsung investasi langsung dari luar negeri ke Bahrain,”paparnya. Salman juga mereformasi sistem birokrasi pemerintah.Targetnya, Bahrain menjadi negara maju dan memimpin Timur Tengah.Pada 24 Februari 2001,Salman ditunjuk sebagai ketua Komite Implementasi Pakta Nasional. Pakta itu disepakati 98% rakyat Bahrain dalam sebuah referendum yang digelar Februari 2001.

Pangeran yang suka dengan olahraga Formula 1 itu juga telah menyiapkan cetak biru masa depan pembangunan Bahrain. “Transparansi, kerja sama,dan partisipasi publik merupakan dasar konsep pembangunan ke depan,”ujarnya. Program dan kebijakan yang diusung Salman mendapatkan dukungan penuh di dalam negerinya. Rakyat Bahrain pun bersiap-siap menunggu gebrakan pria yang lahir 21 Oktober 1969 itu selanjutnya ketika menjadi raja nantinya.


Selanjutnya putra mahkota yang ditunggu-tunggu rakyatnya dan menanti tahta adalah Al-Muhtadee Billah Bolkiah. Dia adalah putra mahkota Kerajaan Brunei. Pria kelahiran 17 Februari 1974 ini, merupakan putra pertama dan pewaris Sultan Brunei Hassanal Bolkiah dan Ratu Saleha. Sebagai calon raja, sang ayah Sultan Bolkiah telah mendidik Billah dengan menempatkannya sebagai menteri senior di kantor Perdana Menteri.Pendidikan dan sumber daya manusia merupakan salah fokus Billah dalam menjalankan tugas kenegaraan.

Dia ingin agar Brunei memiliki tenaga kerja yang ahli sehingga tidak tergantung dengan sumber daya manusia dari luar negeri. Dia juga menerapkan program bagi lulusan muda untuk mengembangkan entreprenuer berbasis teknologi. Meski berdarah biru, Billah yang dilantik menjadi putra mahkota pada 10 Agustus 1998 itu,lebih memilih perempuan biasa untuk dijadikan calon ratu di negaranya.

Billah memang memiliki nilai sosial yang tinggi.Bahkan,dia pun tak malu untuk menjadi atlet yang membawa nama besar negaranya. Pada Desember 2009,Billah bukan hanya menjadi penonton pada SEA Games Laos.Dia juga ambil bagian dalam cabang olahraga biliar sembilan bola putra nomor tunggal dan ganda. Billah memang dikenal sebagai penggemar biliar.

Sementara itu, Putra Mahkota Jepang Pangeran Naruhito telah mengemban beban tugas ayahnya, Kaisar Akihito yang sakit-sakitan. Dia akan melakukan apapun yang harus dilakukan untuk melaksanakan tugas ayahnya. Salah satunya adalah kunjungan ke berbagai negara yang tidak memungkinkan dilakukan sang kaisar. Salah satu kunjungannya adalah ke Vietnam yang menjadi sejarah kekaisaran Jepang mengirimkan Naruhito ke negara komunis itu pada 9 Februari 2009 lalu.


Sebenarnya, salah satu ketertarikan Naruhito adalah kebijakan mengenai air dan konservasi air.Atas kepedulian terhadap isu air, pada Maret 2003, dia ditunjuk sebagai presiden kehormatan Forum Air Dunia ke tiga. Selama ini,Pangeran Naruhito tidak bersedia menjawab pertanyaan mengenai suksesi tahta kaisar dengan mengatakan,dia sebaiknya tidak memberikan komentar mengenai hal itu, meskipun isunya penting.

Bagi dia, isu kekuasaan merupakan hal sensitif. Apalagi, keluarga kerajaan Jepang memang jauh dari publisitas media. Selama ini, Naruhito selalu menjadi bahan perbincangan di negaranya. Pasalnya, Naruhito memiliki satu putri dari pernikahan dengan Masako Owada, mantan diplomat,Aiko dengan julukan Putri Toshi yang lahir pada Desember 2001.Kelahiran Putri Aiko setelah delapan tahun pernikahan mereka menjadi perdebatan serius di masyarakat Jepang.

Pasalnya, ada usulan untuk mengganti Undangundang Kekaisaran yang dibuat pada tahun 1947.Amandemen itu dimaksudkan untuk memperbolehkan perempuan menjadi kaisar. Dari Riyadh, Sultan bin Abdul Aziz Al-Saud,Pangeran Arab Saudi lahir pada 1926 di Riyadh adalah Pangeran Arab Saudi dan Wakil Perdana Menteri Pertama.Hanya saja, dia sering mengalami sakitsakitan. Pada tahun 2004, Sultan didiagnosa menderita kanker usus dan beberapa kali telah dioperasi.

Pada April 2009, dia dilaporkan dirawat di rumah sakit Amerika Serikat.Anaknya, Pangeran Bandar bin Sultan adalah mantan duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat. Putra Sultan lainnya, Pangeran Khalid bin Sultan juga menjadi jenderal penting dalam Perang Teluk 1991. Sementara itu,Frederik André Henrik Christian menjadi putra mahkota Denmark sejak 14 Januari 1972.

Sang Putra Mahkota pertama kali menduduki jabatan resmi menjadi Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Denmark di Paris dari 1998 hingga Oktober 1999. Dia juga menyelesaikan semua pelatihan militer di tiga angkatan bersenjata. Bahkan, dia pun bergabung menjadi seorang pelaut pada pasukan khusus Angkatan Laut yang disebut frogmen (manusia katak). Nama frogman-nya adalah “Pingo”.

Menanti, Tapi Dibenci

Putra mahkota yang selalu menjadi bahan perbincangan di media-media adalah Pangeran Charles dari Inggris. Dia telah menanti untuk menduduki tahta kerajaan Inggris selama berpuluhpuluhan tahun. Namun, dia termasuk kategori putra mahkota yang tidak sukai. Sebuah jajak pendapat yang digelar pada November 2008 mendapati 42% responden menghendaki Charles menggantikan Ratu Elizabeth II.Sedangkan,35% yang berpendapat bahwa tahta mestinya dilimpahkan kepada generasi yang lebih muda,William, putra Charles.

Banyak orang Inggris menilai, dilihat dari banyak hal, William lebih pantas menduduki tahta kerajaan ketimbang ayahnya. Terlebih kecerdasan putra pertama Pangeran Charles dari mendiang Putri Diana itu menonjol sejak kecil, jauh melebihi sang ayah.Konon, sampai usia 10 tahun,Charles masih belum bisa membedakan nilai mata uang.Terlebih lagi,citra Pangeran Charles melorot sejak perceraiannya dari Putri Diana pada tahun 1996 lalu.

Sementara itu, putra mahkota yang tidak terlalu mendapatkan respons positif adalah Putra Mahkota Thailand Maha Vajiralongkorn. Vajiralongkorn menjabat sebagai Jenderal di Angkatan Darat Kerajaan Thailand,Laksamana pada Angkatan Laut dan Marsekal Angkatan Udara. Dengan dilindungi hukum lèse majesté, kritik terhadap anggota kerajaan sangat dilarang.

Anak-Anak Pun Jadi Putra Mahkota

Pangeran Moulay Hassan, putra mahkota Maroko yang lahir pada 8 Mei 2003,adalah anak yang beruntung. Dia adalah putra raja Mohammed VI dan istrinya Putri Lalla Salma. Dia juga memiliki saudara perempuan Putri Lalla Khadija. Moulay akan mengganti ayahnya nanti dan akan menjadi Hassan III.


Selain Moulay, Hussein bin Al- Abdullah merupakan putra mahkota Yordania yang masih muda per 2 Juli 2009.Putra dari Raja Abdullah II dan Ratu Rania itu lahir pada 28 Juni 1994. Hussien diklaim oleh pihak keluarga sebagai keturunan langsung ke-44 dari Nabi Muhammad.Saat ini,dia bergabung dengan Akademi Kerajaan, sebuah sekolah elit yang terletak di Madaba-Amman, Yordania. (andika hendra m)

RAJA INGGRIS

* Home
* About Me

Yahudi Menggenggam Dunia : Masuknya Yahudi ke Inggeris

27 Jul 2009 Leave a Comment

by Muhd Hazrie Abdul Wahab in Dajjal: Raja Konspirasi Dunia, GENERAL INFO

i

Rate This

Quantcast


See full size imageEDWARD adalah raja Inggris pertama yang mengusir orang-orang Yahudi di Prancis, Belanda, Jerman dan Inggris untuk mengadakan kakacauan untuk menggoncangkan suluruh Inggris.

Langkah pertama yang mereka (Yahudi – pen) tempuh adalah menciptakan perpecahan antara raja Inggris dan pemerintahnya. Dan di sisi alin antara pemerintah dan gereja.

Konspirasi Yahudi Internasional mulai menyemprot racun dengan konsep-konsep kontroversial di kalangan politik dan gereja di Inggris, sehingga negeri itu terjebak ke dalam pertikaian intern antara pemerintah dan para tokoh gereja.

Bahkan rakyat Inggris sendiri terbelah menjadi sekte-sekte yang saling bermusuhan, yaitu antara Protestan dan Katolik. Kemudian kelompok Protestan sendiri terbelah menjadi dua kelompok. Sedang biang kejadian pergolakan yang memporak-porandakan bersembunyi dibalik layar.

Kemudian ketika Charles I menduduki singgasana sebagai raja Inggris, dan terjadi perselisihan dengan parlemen, seorang pemilik modal Yahudi berkebangsaan Belanda bernama Minasbech Esraelmendapat peluang untuk menghubungi panglima kenamaan Inggris Oliver Cromwell, menawarkan sejumlah besar uang untuk membiayai sebuah rencana rahasia yang bertujuan menggulungkan tahta kerajaan Inggris. Cromwell menerima baik tawaran itu. Selanjutnya ia bergabung dengan para anggota pemilik modal Yahudi internasional lainnya, untuk melaksanakan rencana tersebut. Kerja sama mulai di rintis dengan di perkuat oelh tokoh Yahudi bernama Fernandez Carfagal , yang kemudian menjadi kepala penasehat di bidang Angkatan Bersenjata Cromwell, yang mendapat julukan sebagai Yahudi Agung. Persengkokolan ini membuat Cromwell sebagai tokoh gerakan militer bawah tanah, yang di dukung dengan keuangan dan persenjataan secara besar-besaran oleh kekuatan di balik layar. Ketika rencana itu mulai mengerakan kekuatan senjata, ratusan tentara bayaran yang terlatih membanjiri masuk ke Inggris dengan menyelundup, dan selanjutnya bergabung dengan gerakan pengacauan yang dikendalikan oleh kelompok Yahudi, mengadakan tindakan teror di berbagai tempat. Mereka menyebar luaskan kepanikan di kalangan penduduk, untuk memancing terjadinya perang saudara melawan pasukan pemerintah.

Taktik kotor Yahudi seperti itu merupakan mata rantai sejarah sejak dulu hingga kini, seperti yang kita saksikan di wilayah pendudukan Israel di Palestina sekarang. Pergolakan yang terjadi di Inggris itu dipimpin dari balik layar oleh tokoh Yahudi berkebangsaan asing bernama De Souz. Ia adalah duta besar Portugal untuk London ketika itu, disamping tokoh Yahudi lain yaitu Fernandez Carfagal yang mendapat perlindungan kekebalan diplomatik dari sang duta besar itu.

Revolusi Inggris mulai disulut, setelah para pemilik modal melihat saatnya telah tiba, dan segala sesuatunya telah siap. Mereka mulai mengobarkan api pertikaian agama antara Protestan dan Katolik. Setelah itu, mereka baru memunculkan gerakan bersenjata, sehingga suhu politik dan sosial di Inggris menjadi kacau dan mencemaskan. Keterangan rinci tentang hal ini bisa dibaca dalam buku Biografi Charles II, karya Isac D�Esraeli seorang tokoh Yahudi Inggris, ayah Benjamin D�Esraeli, yang kelak merupakan politikus dan menjadi perdana menteri Inggris beberapa kali, dan mendapat gelar Lord Baker Sefield. Dalam buku yang di tulisnya itu Isac D�Esraile mengatakan, bahwa ia mendapatkan sebagian besar catatan tentang liku-liku revolusi Inggris itu dari Maleh Bour De Salem, seorang tokoh Yahudi yang menjadi duta besar Inggris untuk Perancis pada masa raja Charles I. Di samping itu, ia juga menulis tentang kesamaan revolusi Inggris dan revolusi yang terjadi di Perancis di kemudian hari. Hakikat kedua revolusi tersebut adalah hasil karya tangan yang sama.

Keterlibatan Lord Cromwell dalam persengkokolan Yahudi Internasional diungkapkan oleh Alfred Douglas dalam majalah mingguan Plain English edisi 03 september 1921. Alfred menjelaskan, bahwa Persengkokolan Yahudi Internasional sudah lama hilang. Namun perkumpulan itu masih bisa mengatur langkah untuk berhubungan dengan kawannya yang berkebangsaan Belanda Kannis Moulheim pada masa Napoleon Bonaparte. Ternyata ada dokumen berupa sebuah surat rahasia berbahasa Jerman yang dikirim oleh Lord Cromwell kepada pimpinan perkumpulan Yahudi Ebenz Brant yang berbunyi sebagai berikut:

�Kami akan mendukung setiap imigrasi Yahudi ke Inggris sebagai imbalan atas bantuan keuangan Yahudi yang telah diberikan.namun hal itu nampaknya mustahil, selama raja Charles masih hidup. Sedang menghabisi hidup Charles lewat pengadilan juga tidak mungkin. Saat ini kami tidak mempunyai landasan yang cukup kuat untuk menuntutnya dengan hukuman mati di pengadilan. Satu-satunya jalan yang bisa kami sarankan adalah dengan jalan membunuhnya. Akan tetapi, kami juga tidak bisa memberikan jalan, bagaimana cara membunuhnya, kecuali menyewa pembunuh profesional. Kemudian kami akan membantunya dalam melarikan diri ke luar Inggris.�

Surat Cromwell di atas di balas oleh Ebenz Brath sebagai berikut:

�Kami akan mengulurkan bantuan finansial yang dibutuhkan, jika Charles telah digulingkan oleh para orang-orang Yahudi diterima di Inggris. Percobaan membunuh Charles adalah langkah yang berbahaya. Jalan terbaik adalah dengan taktik yang membuat Charles melarikan diri. Pada saat itu Charles harus ditangkap dan diajukan ke pengadilan untuk di hukum mati. Setelah itu, uluran bantuan kami akan segera mengalir. Berbicara tentang syarat-syarat, sebelum di mulai pengadilan itu tidak akan banyak gunanya.�

Dua bulan setelah mereka bisa membuat Raja Charles melarikan diri, sang raja segera di tangkap. Menurut sejarawan Inggris kenamaan, yaitu Hollis dan Laudloo, Cromwell adalah orang yang mengatur siasat terjadinya peristiwa terjadinya itu semua. Sebelum Raja Charles melarikan diri, Cromwell terlebih dulu telah membersihkan para pendukung setia raja dari perlemen selama dua bulan sebelumnya. Setelah itu, pada tanggal 6 januari 1649 dibentuk sebuah Mahkamah yang dinamakan Mahkamah Pengadilan Tinggi, yang dimaksudkan untuk mengadili sang raja. Dua pertiga dari anggota Mahkamah ini adalah anggota pasukan Cromwell sendiri. Namun Cromwell sendiri tidak bisa memainkan peranan seperti yang diharapkan oleh para arsiteknya. Akhirnya para tokoh Yahudi menugaskan tokoh Yahudi Inggris bernama Carfagal untuk mengatur siasat, kerja sama dengan Isaac Derlous, dan mereka berhasil menciptakan tuduhan pengkhianatan terhadap Raja Charles. Hakikat peristiwa ini berbeda dari apa yang ditulis oleh sejarah, bahwa tersingkirnya raja Charles karena rakyat Inggris menentangnya. Dan tepat pada tanggal 30 januari 1649 Raja Charles dihukum mati di depan gedung pusat keuangan Yahudi yang berdiri dekat White Hall London. Dengan demikian orang-orang Yahudi telah melampiaskan dendam kesumat kepada sang raja atas pengusiran mereka dari Inggris sejak pemerintahan Cromwell. Maka Cromwell segera diberi uang yang dijanjikan untuknya, persis seperti ketika Yahudi bersengkokol dengan tokoh-tokoh Yahudi untuk membunuh Nabi Musa Alaihi Sallam.

Satu hal yang perlu diingat ialah, bahwa tujuan persengkokolan Yahudi bukan sekedar membunuh Raja Charles, tapi lebih jauh ingin menguasai perekonomian Inggris dan menyalakan api peperangan antara Inggris melawan negara-negara lain. Peperangan yang berkecamuk pasti mengeluarkan biaya yang besar. Para penguasa Eropa diharapkan akan meminjam uang dari para pemilik modal Yahudi itu dengan bunga berlipat ganda. Dan ketergantungan keuangan itu akan memberi mereka kesempatan untuk mendikte kebijakan pemerintah yang bersangkutan, disamping akan mendapat keuntungan uang berlipat ganda dari hutang yang mereka pinjamkan. Sebenarnya sudah bisa diperkirakan mengenai peristiwa yang bakal terjadi, setelah terbunuhnya Raja Charles tahun 1969 hingga berdirinya bank Inggris tahun 1964, yang di antara periode itu hutang nasional kerajaan Inggris telah naik sampai tingkat yang mencemaskan.

Sampai sekarang, orang Inggris tetap memperingati peristiwa perang tersebut tanpa menyadari, bahwa sebenarnya yang terlibat dalam perang itu merupakan mainan yang di buat oleh para pemilik modal Yahudi Internasional yang bertujuan menguasai ekonomi dan merupakan titik temu kekuatan ekonomi Eropa. Maka untuk melangkah pada tahap yang paling menentukan bagi rencana konspirasi Internasional adalah mendirikan lembaga keuangan Inggris, dan menanam modal mereka pada ekonomi nasional Inggris, yang sedang memikul beban pinjaman besar akibat perang yang dirancang oleh mereka sendiri.

Dari berbagai peristiwa historis yang telah berlalu telah dibuktikan, bahwa negara dan bangsa, baik yang memulai dengan agresi militernya, atau mengumandangkan terompet pemberontakan dan kekacauan, pada akhirnya tidak pernah bisa secara obyektif mendapatkan hasil yang diidamkan, atau bisa memecahkan masalah yang mereka hadapi, baik secara politik, ekonomi maupun budaya. Sedang pihak yang beruntung dan terus beruntung tidak lain adalah kekuatan Konspirasi Yahudi Internasional itu sebagai pemilik modal internasional dan pialang perang, yang memainkan peran dari balik layar. Maka tidak aneh kalau panglima perang Belanda


William of Orange yang berhasil menaiki singgasana kerajaan Inggris itu telah membawa negara ke lembah hutang sebesar � 1.250.000 dari para pemilik modal Yahudi Internasional. Setiapa anak sekolah di Inggris bisa membaca peristiwa tragis tersebut dalam buku sejarah nasional Inggris. Akan tetapi, pembicaraan mengenai hutang yang dilakukan oleh John Hoblan dan William Peterson yang mewakili pemerintah Inggris tidak disebutkan sama sekali, siapa nama para pemilik modal yang memberikan hutang dalam jumlah sebesar itu, dan sampai sekarang identitas mereka merupakan teka-teki dalam sejarah. Menurut para sejarawan yang mencatat peristiwa pembicaraan mengenai hutang-hutang itu dinyatakan, bahwa pembicaraan dilakukan dalam sebuah gereja yang tertutup untuk menjaga kerahasiaannya. ( http://amanah-land.blogspot.com )

Tulisan ini aslinya berjudul Revolusi Inggris, merupakan subbab dalam buku Yahudi Menggenggam Dunia, karya William G. Carr, Pustaka Al Kautsar, tahun 2005

Rabu, 24 November 2010

Abdul Aziz bin Saud

King Abdul Aziz bin Saud

`Abd al-`Azīz as-Sa`ūd (bahasa Arab: عبدالعزيز آل سعود Lahir di Riyadh, sekitar 1880– Wafat di Taif, 9 November 1953 ) adalah Raja Arab Saudiyang pertama. Dia juga dikenali dengan berbagai nama, di antaranya Ibnu Saud. Beliau berasal dari Keluarga Kerajaan Saudiyang memerintah sebahagian dari Jazirah Arab.

Riwayat hidup
Ibnu Saudi dilahirkan di Riyadh dan merupakan anak pasangan Abdul Rahman bin Faisal dan Sara binti Ahmad al-Kabir Sudayri. Pada tahun1890, semasa berusia sepuluh tahun, Ibnu Saud mengikuti keluarganya dalam pengasingan di Kuwait setelah direbutnya tanah keluarganya oleh dinasti Rashidi. Beliau menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kuwait dalam keadaan tidak berharta.

Pada tahun 1901, semasa berusia 22 tahun, Ibnu Saud menggantikan ayahnya sebagai ketua keluarga dinasti Saud dengan gelar Sultan Nejd. Beliau kemudian memulai kampanye untuk merebut kembali tanah keluarganya dari dinasti Rashidi di tempat yang kini merupakan Arab Saudi. Pada tahun 1902, beliau bersama-sama dengan pasukan keluarga dan saudaranya berhasil merebut Riyadh dengan membunuh gubernur Rashidi di sana.

Merebut kembali kekuasaaan
Dua tahun setelah berhasil merebut Riyadh, Ibnu Saud berhasil menguasai separuh dari Nejd. Meskipun begitu, pada tahun 1904, dinasti Rashidi meminta bantuan dari Kesultanan Turki Utsmaniyah untuk mengalahkan dinasti Saud (Keluarga Kerajaan Saudi). Kerajaan Utsmaniyah mengirimkan pasukan ke Arabia (Tanah Arab) dan ini menyebabkan kekalahan dinasti Saud pada 15 Juni 1904, namun setelah pasukan Utsmaniyah mundur disebabkan masalah tertentu, pasukan dinasti Saud berhasil mengumpulkan kembali kekuatannya.

Pada tahun 1912, Ibnu Saud berhasil menguasai Nejd dengan bantuan dinasti Wahabbi. Pada saat Perang Dunia I, Ibnu Saud berpihak kepada Britania Raya karena dinasti Rashidi merupakan sekutu Utsmaniyah yang merupakan musuh Britania. Pada tahun 1922 dinasti Saud berhasil mengalahkan dinasti Rashidi dan ini mengakhiri penguasaan dinasti Rashidi di Tanah Arab.

Pada tahun 1925, dinasti Saud berhasil merebut Kota Suci Makkah dari Syarif Hussain bin Ali. Pada 10 Januari 1926, Ibnu Saud dinobatkan menjadi Raja Hijaz di Masjidil Haram, Makkah.

Pada tahun 1932, setelah menguasai sebagian besar Jazirah Arab dari musuh-musuhnya, Ibnu Saud menamakan tanah gabungan Hijaz dan Nejd sebagai Arab Saudi. Beliau kemudiannya menobatkan dirinya sebagai Raja Arab Saudi dengan dukungan pihak Britania.

Minyak dan pemerintahan Ibnu Saud

Ibn Saud (kiri) dan Presiden Amerika, Franklin D. Roosevelt (kanan) di geladak kapal Perang USS Quincysetelah konferensi Yalta

Setelah minyak bumi ditemukan di Arab Saudi pada tahun 1938, Ibnu Saud memberikan izin bagi perusahaan-perusahaan Barat untuk melakukan eksplorasi minyak di sana. Segala keuntungan hasil penjualan minyak diberikan kepada keluarga Saud. Keuntungan hasil penjualan minyak yang semakin bertambah menyebabkan Ibnu Saud mulai membelanjakan uang itu untuk memperbaiki kehidupan rakyatnya.

Beliau memaksa suku-suku nomadik agar tinggal secara tetap di suatu tempat. Beliau juga memulai usaha untuk memberantas tindakan kriminal terutamanya tindakan kriminal terhadap terhadap para peziarah di Makkah dan Madinah.

Perang asing
Saat Perang Dunia II, Arab Saudi ialah sebuah negara yang netral tetapi lebih memihak kepada pasukan Sekutu.

Pada tahun 1948, saat Perang Arab-Israel 1948 meletus, Ibnu Saud mengikuti peperangan tersebut tetapi sumbangan Arab Saudi hanya sedikit.

Keluarga dan penerus
Jumlah anak Ibnu Saud tidak diketahui tetapi diperkirakan berjumlah 50 hingga 200 orang. Mereka terdiri dari: (nama yang menjadi Raja dihitamkan)

Dengan Wadhba binti Muhammad al-Hazzam
1. Saud (12 Januari 1902 - 23 Februari 1969); menjadi Raja Arab Saudi pada tahun 1953-1964
2. Turki (1917-1919)

Dengan Tarfah binti Abdullah al-Shaykh Abdul-Wahab
1. Khalid (lahir 1903, meninggal dunia semasa masih bayi)
2. Faisal (April 1904 - 25 Maret 1975); menjadi Raja Arab Saudi pada tahun 1964-1975.

Dengan Jauhara binti Musa'd Al Saud
1. Muhammad (1910-1988)
2. Khalid (1913 - 13 Juni 1982); menjadi Raja Arab Saudi pada tahun 1975-1982
3. Jauhara
4. Anud (lahir 1917)

Dengan Bazza
1. Nasser (lahir 1919)
2. Bandar (lahir 1923)
3. Fawwaz (lahir 1934)

Dengan Jauhara binti Sa'ad al-Sudairy
1. Saad (1920 - 1990-an)
2. Musaid (lahir 1923)
3. Abdalmohsen (1925-1985)

Dengan Hussah binti Ahmad al-Sudairy
1. Sa'ad (lahir 1914, wafat 1919)
2. Fahd (1923 - 1 Agustus 2005); menjadi Raja Arab Saudi pada tahun 1982-2005
3. Sultan (lahir 5 Januari 1928); putra mahkota saat ini
4. Abdul-Rahman (lahir 1931)
5. Turki (lahir 1932)
6. Nayef (lahir 1934)
7. Salman (lahir 1936)
8. Ahmed (lahir 1940)

Dengan Shahida
1. Mansur (1922 - 2 Mei, 1951)
2. Mishal (lahir 1926)
3. Qumasha (lahir 1927)
4. Muteb (lahir 1931)

Dengan Fahda binti Asi al-Shuraim
1. Abdullah (lahir Agustus 1924); Raja Arab Saudi sekarang, sejak 2005

2. Nuf
3. Sita

Dengan Haya binti Sa'ad al-Sudairy (1913 - 18 April 2003)
1. Nura (mati 1930)
2. Badr (lahir 1933)
3. Hassa
4. Abdalillah (lahir 1935)
5. Abdalmajid (lahir 1940)
6. Mashael

Dengan Munaiyir
1. Talal (lahir 1931)
2. Badr (1931-1932)
3. Mishari (1932 - 23 Mei 2000)
4. Nawwaf (lahir 1933)

Dengan Mudhi
1. Majed (19 Oktober 1938 - 12 April 2003)
2. Sattam (lahir 21 Januari 1941)

Dengan Nouf binti al-Shalan
1. Thamir (1937 - 27 Juni 1959)
2. Mamduh (lahir 1940)
3. Mashhur (lahir 1942)

Dengan Saida al-Yamaniyah
1. Hidhlul (lahir 1941)

Dengan Baraka al-Yamaniyah
1. Muqren (lahir 15 September 1945)

Dengan Futayma
1. Hamud (lahir 1947)

Dengan ?? (tidak diketahui)
1. Fahd (1905-1919)
2. Sara (sekitar 1916 - Juni 2000)
3. Shaikha (lahir 1922)
4. Talal (1930-1931)
5. Abdalsalam (1941)
6. Jiluwi (1942-1944)




Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud Raja Ke-6 Arab Saudi


Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud (Arab: عبد الله بن عبد العزيز آل سعود, lahir 1924)[2] adalah Raja Arab Saudi yang keenam. Setelah tampil sebagai Pangeran Abdullah, ia mencapai puncak kekusaan pada 1 Agustus 2005 sesaat setelah wafatnya Raja Fahd. Ia sudah tampil sebagai penguasa de facto dan dimungkinkan tampil menggantikan sebagai Raja Arab Saudi sejak tahun 1995 ketika Raja Fahd mengalami penurunan kesehatan akibat terserang stroke. Akhirnya, memang pada 3 Agustus 2005, ia menyandang gelar Raja setelah wafatnya raja terdahulu, yang masih sanak saudaranya.[3] Sebagai seorang anaknya, Pangeran Mutaib ditampilkan sebagai wakil komando Dewan Garda Nasional Saudi (Saudi National Guard).

Riwayat Hidup

Ia adalah salah satu dari 37 putra Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al-Saud (pendiri Arab Saudi modern) yang lahir dari rahim Fahada binti Asi-al Syuraim yang adalah istri kedelapan Abdul Aziz dari keluarga Rasyid. Ia menerima pendidikan di Sekolah Kerajaan Princes' School dari pejabat-pejabat dan tokoh-tkoh intelektual keagamaan dan dibesarkan di bawah pengawasan ketat Raja Abdul Aziz yang adalah ayahnya. Pangeran Abdullah dikenal sangat kuat memegang ajaran agama dan memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap rakyat dan Tanah Air. Ia langsung mendapat pendidikan dari para ulama senior Arab Saudi di bidang agama, sejarah, politik, dan sosiologi.

Karier

Jabatan yang pernah disandang

Abdullah juga pernah menjabat Perdana Menteri dan Komandan Dewan Garda Nasional. Ia juga pimpinan Supreme Economic Council, Wakil Presiden High Council for Petroleum and Minerals, Presiden King Abdulaziz Centre for National Dialogue, Wakil Pimpinan Council of Civil Service, dan anggota Military Service Council.

Komandan satuan elit

Pada tahun 1962, ia ditunjuk sebagai komandan satuan elit Pengawal Nasional karena pengalamannya yang luas dalam urusan Badui dan kabilah di padang pasir semenanjung Jazirah Arab. Sejak menjabat komandan dan Pengawal Nasional, sosoknya sudah tak bisa dipisahkan dari kesatuan elite tersebut. Pada anggota Pengawal Nasional berasal khusus dari anak cucu Mujahidin yang pernah berjuang bersama Raja Abdul Aziz dalam menyatukan Jazirah Arab dan kemudian mendirikan negara Arab Saudi.

Pangeran Abdullah berhasil memimpin Pengawal Nasional bukan semata sebagai lembaga militer tetapi juga wadah sosial dan budaya anggotanya. Semenjak ia dipercaya sebagai komandan pengawal nasional telah dilakukan restrukturisasi dan resionalisasi sesuai dengan manajemen militer modern. Sebagai bentuknya, ia mendirikan akademi militer untuk mendidik dan menempa kandidat anggota dan perwira pengawal nasional. Akademi militer tersebut dinamakan Institut Militer Raja Khalid bin Abdul Aziz. Institut ini diresmikan olehnya pada 18 Desember 1982.

Ia menangani sendiri mega-proyek pengembangan pengawal nasional. Karena, lembaga itu merupakan titik balik sejarah lembaga satuan elite pengawal nasional. Di antara mega-proyek itu seperti pembentukan divisi gabungan dalam jajaran pengawal nasional yang terdiri dari satuan logistik, intelijen, dan infanteri. Pangeran Abdullah juga mendirikan kompleks militer dan tempat latihan khusus untuk satuan elite pengawal nasional.

Sebagai putra mahkota

Pada 29 Maret 1975, ia ditunjuk sebagai Deputi Kedua Dewan Kabinet Arab Saudi. Selain ditunjuk oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz sebagai putra mahkota pada 13 Juni 1982. Pada hari itu juga, Pangeran Abdullah dipromosikan sebagai Deputi Utama Dewan Kabinet Arab Saudi. Sejak kesehatan Raja Fahd bin Abdul Aziz menurun, praktis secara de facto mengendalikan kekuasaan dan kebijakan dalam dan luar negeri. Ia diangkat sebagai bupate de facto regent pada tahun 1996. Ia amat menaruh perhatian pada upaya pelestarian budaya dan khazanah yang melibatkan para ulama dari dunia Arab dan Islam.

Program privatisasi

Sejak 1997, dia telah meluncurkan program privatisasi dengan menghapus daftar larangan berusaha dan membiarkan perusahaan publik tumbuh secara bebas. Kebijakan luar negerinya lebih pro-Arab daripada Barat. Pada 1980, ia berhasil sebagai mediator perundingan dalam konflik Suriah-Yordania. Ia juga menjadi arsitek Perjanjian Taif 1989 yang mengakhiri perang sipil di Lebanon pada periode 1975-1990. Selain, meningkatkan kembali hubungan bilateral dengan Mesir, Suriah, dan Iran.

Seminar Arab Saudi-Palestina

Pada April 2001, Pangeran Abdullah menyelenggarakan seminar tentang sejarah hubungan Arab Saudi dan Palestina. Seminar itu mendatangkan tokoh-tokoh Arab. Dalam seminar itu dibahas isu dukungan Arab Saudi terhadap perjuangan rakyat Palestina sepanjang sejarahnya dan dalam berbagai aspek. Dari seminar tersebut disimpulkan bahwa Arab Saudi telah memberi dukungan besar perjuangan rakyat Palestina meskipun Arab Saudi tidak termasuk negara Arab garis depan yang berbatasan langsung dengan Israel.

Mediator

Konflik Arab-Israel

Dengan bobot kapasitasnya di dunia Arab dan Islam, Arab Saudi senantiasa hadir secara kuat dalam kancah konflik Arab-Israel. Pemerintah Arab Saudi ikut menjadi mediator konflik militer Palestina-Yordania pada September 1970. Konflik ini dikenal dengan Black September. Konflik itu berakhir dengan keluarnya Yasser Arafat (1929-2005) dari Yordania menuju Lebanon.

Konflik internal Arab

Arab Saudi juga tampil sebagai mediator dalam upaya menengahi perbedaan pendapat antara Suriah dan Palestina dengan Mesir. Di pihak lain menyusul meletusnya perang saudara di Lebanon tahun 1975. Upaya damai tersebut dimaksudkan untuk memelihara kesatuan potensi kekuatan Arab dalam menghadapi Israel, sehingga menjadi kekuatan tawar-menawar dalam perundingan damai dengan Israel. Upaya damai Arab Saudi yang terkenal adalah inisiatif damai yang ditawarkan Raja Fahd bin Abdul Aziz pada forum KTT Arab tahun 1982 di Fez (Maroko).

Proposal damai dengan Israel

Saat itu, Raja Fahd menawarkan inisiatif damai berdasarkan Resolusi PBB Nomor 242 dan Nomor 338. Untuk pertama kalinya, negara-negara Arab siap mengakui Israel sebagai negara yang bisa hidup berdampingan secara damai dengan negara-negara Arab. Pertengahan Februari 2002, Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz mengungkapkan kepada wartawan The New York Times bernama Thomas Friedman tentang proposal damai mengenai Israel.

Proposal yang disebut Proposal Damai Arab Saudi semakin strategis karena dilontarkan ketika negara-negara Arab bersiap menggelar KTT Arab di Beirut (Lebanon) pada 27-28 Maret 2002. Di samping itu, Proposal Damai Arab Saudi disampaikan ketika aksi kekerasan Israel-Palestina mencapai titik terburuknya sejak Intifada Al Aqsa pada 28 September 2000. Proposal itu sendiri merupakan pengembangan inisiatif damai yang pernah dilontarkan Raja Fahd 20 tahun berlalu. Ketika itu, Raja Fahd hanya siap mengakui negara Israel. Tetapi, Pangeran Abdullah lebih jauh dari itu yakni menjalin hubungan normal dengan Israel dalam semua aspek kehidupan. Aspek itu seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, wisata, dan sebagainya.

Diangkat sebagai Raja

Ia semakin leluasa menjalankan pemerintahan setelah dinyatakan secara resmi sebagai raja Arab Saudi sejak wafatnya Raja Fahd bin Abdul Aziz pada 1 Agustus 2005. Sementera, Menteri Pertahanan Sultan bin Abdul Aziz dinyatakan sebagai putra mahkota. Raja Abdullah bin Abdul Aziz dikenal sebagai pemimpin Arab yang nasionalis juga modernis. Di bidang sosial-politik, Abdullah menyelenggarakan dialog nasional yang melibatkan berbagai kalangan masyarakat dan menggelar pemilihan langsung anggota kota praja(Dewan Konsultatif) secara nasional awal tahun 2005. Ia juga membuka kesempatan kepada para pemodal asing untuk menanamkan investasi di bidang eksplorasi dan produksi gas.

Ia diresmikan menjadi Raja pada 3 Agustus 2005. Abdullah juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Komandan Garda Nasional Saudi. Dia diberikan jabatan Komandan Garda Nasional Saudi pada tahun 1963 dan jabatan Wakil Perdana Menteri pada Juni 1982. Dari empat istrinya lahir sepuluh putra dan 10 putri. Sebelum menjadi komandan Garda Nasional, ia menjabat Wali Kota Mekkah. Ia dikenal alim dan sederhana. Ia tidak pernah diterpa masalah korupsi atau pun terlibat gaya hidup para pangeran negeri Arab yang biasanya lekat dengan banyak wanita dan kehidupan gemerlap.
Didahului oleh:


Fahd bin Abdul Aziz Al-Saud Raja Ke-5 Arab Saudi (1921 - 2005)


Raja Fahd bin Abdul Aziz Al-Saud (bahasa Arab: فهد بن عبد العزيز آل سعود) (lahir di Riyadh, 1921/1923–1 Agustus 2005) adalah Raja sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi.

Pada tahun 1953, dalam usia 30 tahun, Fahd dilantik sebagai Menteri Pendidikan oleh ayahnya, Raja Abdulaziz bin Abdulrahman Al-Saud. Kemudian pada tahun 1962 dia menjadi Menteri Dalam Negeri. Lima tahun kemudian, Fahd menjadi Wakil Perdana Menteri Kedua.

Pada 25 Maret 1975, Raja Faisal dibunuh keponakannya dan Raja Khalid naik takhta. Fahd dipilih menjadi Putra Mahkota dan Wakil Perdana Menteri Pertama. Pada masa-masa akhir pemerintahan Raja Khalid, Fahd dipandang sebagai perdana menteri de facto.

Saat Raja Khalid meninggal dunia pada 13 Juni 1982, Fahd menjadi penerus takhta. Dia membangun ekonomi Arab Saudi dan menjalin hubungan yang erat dengan pemerintah Amerika Serikat.

Raja Fahd terkena stroke pada tahun 1995 dan kondisinya melemah. Tugas menjalankan kerajaan pun diberikan kepada Putra kota Abdullah. Raja Fahd wafat pada 1 Agustus 2005.


Khalid bin 'Abd al 'Aziz Al Su'ud Raja Ke-4 Arab Saudi


Khalid bin 'Abd al 'Aziz Al Su'ud (1912 - 13 Juni 1982) (bahasa Arab: خالد بن عبد العزيز) ialah Raja Arab Saudi selepas peristiwa pembunuhan Raja Faisal yaitu pada tahun 1975 sampai ia meninggal dunia pada tahun 1982.
Khalid dilantik menjadi Putera Mahkota pada tahun 1965 selepas kakaknya (kakak kandung) yaitu Muhammad bin Abdul Aziz Al Su'ud menolak untuk menjadi raja. Ia tidak begitu berminat dengan politik dan memberikan kekuasaan pemerintahan kepada adik tirinya yaitu Putera Mahkota Fahd.

Untuk memperingati penyusunan kembali Majelis Menteri-Menteri pada tahun 1975, Raja Khalid mengangkat Putera Mahkota Fahd sebagai Wakil Perdana Menteri. Pada tahun 1976, Raja Khalid terpaksa pergi ke Amerika Serikat untuk mendapatkan perawatan disebabkan masalah jantung. Raja Khalid menanyakan kepada Presiden Jimmy Carter, Presiden Amerika Serikat ketika itu untuk menjual pesawat pejuang kepada Arab Saudi untuk memberantas kegiatan komunis di sana. Pengantaran pertama enam belas buah pesawat pejuang F-15 di bawah perjanjian dengan Presiden Carter tiba pada tahun 1982. Sebagian pemerhati luar menggangap senjata tradisional dan lama tidak lagi sesuai digunakan di Arab Saudi. Pendapat ini ternyata tepat saat sekurang-kurangnya 500 teroris menawan Masjidil Haram di Mekkah pada 20 November 1979.

Ia membuat keputusan untuk membawa masuk buruh asing ke dalam negara untuk membantu pembangunan negara. Raja Khalid meninggal dunia akibat serangan jantung. Ia digantikan oleh Putera Mahkota Fahd.

Faisal bin 'Abd al 'Aziz Al Sa'ud Raja Ke-3 Arab Saudi


Faisal bin 'Abd al 'Aziz Al Sa'ud (1906-25 Maret 1975) (bahasa Arab: فيصل بن عبدالعزيز آل سعود) adalah Raja Arab Saudi yang menjabat mulai tahun 1964 hingga tahun 1975.

Raja Faisal lahir di Riyadh dan merupakan anak keempat Raja Abdul Aziz Al Saud. Raja Faisal memerintah sekumpulan laskar dan berhasil memenangkan pertempuran di Hijaz. Oleh karena itu, ia dilantik menjadi Gubernur Hijaz pada tahun berikutnya. Setelah Arab Saudi didirikan, dia diberi jabatan Menteri Luar Negeri Arab Saudi pada tahun 1932.

Setelah resolusi PBB mengenai pemecahan Palestina dan pendirian Israel, Pangeran Faisal (masih belum menjadi raja) mendesak ayahandanya supaya memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat, tetapi desakannya itu ditolak. Selepas skandal keuangan Raja Saud, Pangeran Faisal dilantik menjadi pemerintah sementara. Pada tanggal 2 November 1964, ia dilantik menjadi raja setelah Raja Saud melarikan diri ke Yunani.

Raja Faisal melakukan banyak reformasi sewaktu menjadi raja, diantaranya adalah memperbolehkan anak-anak perempuan bersekolah, televisi, dan sebagainya. Usahanya ini mendapat tentangan dari berbagai pihak karena perkara-perkara ini dianggap bertentangan dengan Islam. Ia berasa amat kecewa saat Israel memenangkan Perang Enam Hari pada tahun 1967.

Pada tahun 1973, Raja Faisal memulai suatu program yang bertujuan untuk memajukan kekuatan tentara Arab Saudi. Pada tanggal 17 Oktober 1973, ia tiba-tiba menghentikan ekspor minyak Arab Saudi ke pasaran internasional yang menyebabkan harga minyak melambung tinggi.

Pembunuhan King Faisal

Pada tanggal 25 Maret 1975, Raja Faisal ditembak mati oleh anak adiknya, yaitu Faisal bin Musad. Menurut spekulasi yang merebak, ia ingin membalaskan dendam atas kematian saudaranya akibat perbuatan pasukan keamanan pada tahun 1965. Walaupun sempat dicurigai adanya teori konspirasi, tetapi penyelidikan membuktikan bahwa Pangeran Faisal bin Musad bertindak sendirian.

Pangeran Musad menyamar sebagai seorang delegasi Kuwait yang menunggu untuk bertemu dengan Raja Faisal. Saat Raja Faisal berjalan ke arahnya untuk menyambut, Pangeran Faisal bin Musad mengeluarkan sepucuk pistol dan kemudian menembakkannya ke tubuh Raja Faisal sebanyak tiga kali.

Pangeran Faisal bin Musad lalu ditangkap, tetapi ternyata dinyatakan tidak waras. Ia kemudian didakwa bersalah dan dipancung di depan umum di Riyadh. Adapun kedudukan Raja Faisal digantikan oleh adiknya, Pangeran Khalid.

Keluarga

Anaknya, Pangeran Khalid, adalah Gubernur 'Asir di barat daya Arab Saudi.

Lain-lain

Kota Lyallpur di Pakistan dinamakan kembali menjadi Faisalabad pada tahun 1979. Masjid Faisal di Islamabad, Pakistan, juga dinamakan berdasarkan nama Raja Faisal.

Saud ibn ’Abd al ’Aziz Al Su’ud Raja Ke-2 Arab Saudi

Saud ibn ’Abd al ’Aziz Al Su’ud (12 Januari 1902 - 23 Februari 1969) ialah Raja Arab Saudi dari tahun 1953 sampai 2 November 1964.

Ia adalah anak sulung Raja Ibnu Saud. Ia kemudian dilantik menjadi putera mahkota pada 11 Mei 1933 dan ditabalkan menjadi raja setelah mangkatnya ayahnya pada tahun 1953. Semasa pemerintahannya banyak kantor pemerintahan didirikan di samping pendirian Universitas Raja Su'ud di Riyadh.

Sepanjang pemerintahannya banyak ketidakpuasan disuarakan oleh anggota keluarganya sendiri. Seperti ayahandanya, ia mempunyai banyak anak lebih kurang 30 orang. Raja Saud memberi anak-anaknya kekuasaan yang tinggi di samping melantik mereka ke posisi-posisi yang penting di dalam kerajaan. Hal ini menyebabkan adik-adiknya terutama adik-adik tirinya merasa tidak puas. Mereka melihat anak-anak Raja Su'ud tidak mempunyai cukup pengalaman dalam memerintah negara di samping khawatir Raja Su'ud mungkin melantik anaknya untuk menggantikannya setelah ini. Raja Su'ud gemar membelanjakan uang negara demi kepentingan pribadi dan keluarganya. Ia juga membuat kekisruhan politik yang antaranya dikaitkan dengan percobaan pembunuhan Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir ketika itu. Dia juga diketahui dengan sikapnya yang suka minum arak yang nyata-nyata merupakan perkara yang dilarang dalam Islam.

Sebuah perebutan kekuasaan oleh keluarganya sendiri terjadi pada tahun 1964 dengan disokong oleh golongan ulama. Walaupun Muhammad bin Abdul Aziz Al Su'ud merupakan pewaris tahta yang paling layak namun dia enggan menerimanya dan sebaliknya menyokong pengangkatan adik tirinya yaitu Faishal bin Abdul Aziz Al Su'ud sebagai raja. Raja Su'ud kemudian ke Jenewa, Swiss setelah diusir keluar dari Arab Saudi. Pada tahun 1966, Raja Su'ud telah dijemput oleh Presiden Gamal Abdel Nasser untuk tinggal di Mesir. Ia meninggal dunia di Athena, Yunani pada tahun 1969.

Abdul Aziz bin Saud Raja Saudi Pertama (1880 -1953)


`Abd al-`Azīz as-Sa`ūd (Riyadh, sekitar 1880–Taif, 9 November 1953) (bahasa Arab: عبدالعزيز آل سعود) adalah Raja Arab Saudi yang pertama. Dia juga dikenali dengan berbagai nama, di antaranya Ibnu Saud. Ia berasal dari Keluarga Kerajaan Saudi yang memerintah sebahagian dari Jazirah Arab.

Riwayat hidup

Ibnu Saudi dilahirkan di Riyadh dan merupakan anak pasangan Abdul Rahman bin Faisal dan Sara binti Ahmad al-Kabir Sudayri. Pada tahun 1890, semasa berusia sepuluh tahun, Ibnu Saud mengikuti keluarganya dalam pengasingan di Kuwait setelah direbutnya tanah keluarganya oleh dinasti Rashidi. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kuwait dalam keadaan tidak berharta.

Pada tahun 1901, semasa berusia 22 tahun, Ibnu Saud menggantikan ayahnya sebagai ketua keluarga dinasti Saud dengan gelar Sultan Nejd. Ia kemudian memulai kampanye untuk merebut kembali tanah keluarganya dari dinasti Rashidi di tempat yang kini merupakan Arab Saudi. Pada tahun 1902, beliau bersama-sama dengan pasukan keluarga dan saudaranya berhasil merebut Riyadh dengan membunuh gubernur Rashidi di sana.

Merebut kembali kekuasaaan

Dua tahun setelah berhasil merebut Riyadh, Ibnu Saud berhasil menguasai separuh dari Nejd. Meskipun begitu, pada tahun 1904, dinasti Rashidi meminta bantuan dari Kesultanan Utsmaniyah untuk mengalahkan dinasti Saud (Keluarga Kerajaan Saudi). Kerajaan Utsmaniyah mengirimkan pasukan ke Arabia (Tanah Arab) dan ini menyebabkan kekalahan dinasti Saud pada 15 Juni 1904, namun setelah pasukan Utsmaniyah mundur disebabkan masalah tertentu, pasukan dinasti Saud berhasil mengumpulkan kembali kekuatannya.
Pada tahun 1912, Ibnu Saud berhasil menguasai Nejd dengan bantuan dinasti Wahabi. Pada saat Perang Dunia I, Ibnu Saud berpihak kepada Britania Raya karena dinasti Rashidi merupakan sekutu Utsmaniyah yang merupakan musuh Britania. Pada tahun 1922 dinasti Saud berhasil mengalahkan dinasti Rashidi dan ini mengakhiri penguasaan dinasti Rashidi di Tanah Arab.

Pada tahun 1925, dinasti Saud berhasil merebut Kota Suci Makkah dari Syarif Hussain bin Ali. Pada 10 Januari 1926, Ibnu Saud dinobatkan menjadi Raja Hijaz di Masjidil Haram, Makkah.
Pada tahun 1932, setelah menguasai sebagian besar Jazirah Arab dari musuh-musuhnya, Ibnu Saud menamakan tanah gabungan Hijaz dan Nejd sebagai Arab Saudi. Ia kemudiannya menobatkan dirinya sebagai Raja Arab Saudi dengan dukungan pihak Britania.

Minyak dan pemerintahan Ibnu Saud

Setelah minyak bumi ditemukan di Arab Saudi pada tahun 1938, Ibnu Saud memberikan izin bagi perusahaan-perusahaan Barat untuk melakukan eksplorasi minyak di sana. Segala keuntungan hasil penjualan minyak diberikan kepada keluarga Saud. Keuntungan hasil penjualan minyak yang semakin bertambah menyebabkan Ibnu Saud mulai membelanjakan uang itu untuk memperbaiki kehidupan rakyatnya.
Ia memaksa suku-suku nomadik agar tinggal secara tetap di suatu tempat. Ia juga memulai usaha untuk memberantas tindakan kriminal terutamanya tindakan kriminal terhadap terhadap para peziarah di Makkah dan Madinah.

Perang asing

Saat Perang Dunia II, Arab Saudi ialah sebuah negara yang netral tetapi lebih memihak kepada pasukan Sekutu.
Pada tahun 1948, saat Perang Arab-Israel 1948 meletus, Ibnu Saud mengikuti peperangan tersebut tetapi sumbangan Arab Saudi hanya sedikit.

Keluarga dan penerus

Jumlah anak Ibnu Saud tidak diketahui tetapi diperkirakan berjumlah 50 hingga 200 orang. Mereka terdiri dari: (nama yang menjadi Raja dihitamkan)
  1. Dengan Wadhba binti Muhammad al-Hazzam

    1. Saud (12 Januari 1902 - 23 Februari 1969); menjadi Raja Arab Saudi pada tahun 1953-1964
    2. Turki (1917-1919)
  2. Dengan Tarfah binti Abdullah al-Shaykh Abdul-Wahab

    1. Khalid (lahir 1903, meninggal dunia semasa masih bayi)
    2. Faisal (April 1904 - 25 Maret 1975); menjadi Raja Arab Saudi pada tahun 1964-1975.
  3. Dengan Jauhara binti Musa'd Al Saud

    1. Muhammad (1910-1988)
    2. Khalid (1913 - 13 Juni 1982); menjadi Raja Arab Saudi pada tahun 1975-1982
    3. Jauhara
    4. Anud (lahir 1917)
  4. Dengan Bazza

    1. Nasser (lahir 1919)
    2. Bandar (lahir 1923)
    3. Fawwaz (lahir 1934)
  5. Dengan Jauhara binti Sa'ad al-Sudairy

    1. Saad (1920 - 1990-an)
    2. Musaid (lahir 1923)
    3. Abdalmohsen (1925-1985)
  6. Dengan Hussah binti Ahmad al-Sudairy

    1. Sa'ad (lahir 1914, wafat 1919)
    2. Fahd (1923 - 1 Agustus 2005); menjadi Raja Arab Saudi pada tahun 1982-2005
    3. Sultan (lahir 5 Januari 1928); putra mahkota saat ini
    4. Abdul-Rahman (lahir 1931)
    5. Turki (lahir 1932)
    6. Nayef (lahir 1934)
    7. Salman (lahir 1936)
    8. Ahmed (lahir 1940)
  7. Dengan Shahida

    1. Mansur (1922 - 2 Mei, 1951)
    2. Mishal (lahir 1926)
    3. Qumasha (lahir 1927)
    4. Muteb (lahir 1931)
  8. Dengan Fahda binti Asi al-Shuraim

    1. Abdullah (lahir Agustus 1924); Raja Arab Saudi sekarang, sejak 2005
    2. Nuf
    3. Sita
  9. Dengan Haya binti Sa'ad al-Sudairy (1913 - 18 April 2003)

    1. Nura (mati 1930)
    2. Badr (lahir 1933)
    3. Hassa
    4. Abdalillah (lahir 1935)
    5. Abdalmajid (lahir 1940)
    6. Mashael
  10. Dengan Munaiyir

    1. Talal (lahir 1931)
    2. Badr (1931-1932)
    3. Mishari (1932 - 23 Mei 2000)
    4. Nawwaf (lahir 1933)
  11. Dengan Mudhi

    1. Majed (19 Oktober 1938 - 12 April 2003)
    2. Sattam (lahir 21 Januari 1941)
  12. Dengan Nouf binti al-Shalan

    1. Thamir (1937 - 27 Juni 1959)
    2. Mamduh (lahir 1940)
    3. Mashhur (lahir 1942)
  13. Dengan Saida al-Yamaniyah

    1. Hidhlul (lahir 1941)
  14. Dengan Baraka al-Yamaniyah

    1. Muqren (lahir 15 September 1945)
  15. Dengan Futayma

    1. Hamud (lahir 1947)
  16. Dengan ?? (tidak diketahui)

    1. Fahd (1905-1919)
    2. Sara (sekitar 1916 - Juni 2000)
    3. Shaikha (lahir 1922)
    4. Talal (1930-1931)
    5. Abdalsalam (1941)
    6. Jiluwi (1942-1944)