Sabtu, 15 Januari 2011

kisah caligula yang cabul

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI --- CALIGULA


Caligula memerintah kerajaan Romawi hanya singkat, dari tahun 37-41 Masehi. Namun begitu, kaisar ini amat terkenal. Itu karena sang raja merupakan sosok yang bengis dan keji. Gampang membunuh dan suka melakukan petualangan seks. Jika ada pengantin baru perempuannya diperawani Sang Kaisar, sedang pengantin laki-lakinya disodomi dengan amat kasar. Yang lebih mencengangkan, adik perempuannya sendiri juga dijadikan budak nafsu. Di tahun 80-an kisah Caligula pernah diangkat dalam sebuah pagelaran di New York, dan terjadi kegemparan di negara demokrasi. Itu bisa dipahami, karena semua pemainnya telanjang bulat. Mereka melakukan adegan seks gila-gilaan. Dari oral seks, heteroseks, anal seks, sampai yang dikenal sebagai bestiality. Mencari kepuasan melalui penyiksaan alat vital.


Ada masa seks dipuja dan dijadikan simbol kekuatan. Dalam catatan sejarah, kisah seperti itu salah satunya terjadi di kerajaan Romawi kuno. Lingga dan yoni dijadikan sarana pemujaan. Dan dari penyatuan kemaluan laki-perempuan itu dipercaya mendatangkan kekuatan. Seks sebagai sumber energi.

Kerajaan Romawi kuno memang melakukan ritual penyembahan seperti itu. Akibatnya, raja yang dipercaya sebagai keturunan dewa, dikelilingi gadis-gadis muda yang cantik jelita. Mereka harus melayani kebutuhan seksnya yang tinggi. Dan para gadis itu wajib mendalami berbagai gaya bercinta untuk memuaskan Sang Raja.

Tak cuma itu. Istana sebagai pusat titah juga diberi simbol-simbol lingga (kemaluan laki-laki) dan yoni (kemaluan perempuan). Tujuannya agar memberi vibrasi kekuatan bagi penghuni istana, yaitu para raja dan keluarganya, serta para menteri yang menjalankan titah raja.
Untuk itu, segala sudut istana dikerumuni para dayang bugil yang siap memberi servis raja. Dan yang mengerikan, tiap ruang dipajang aktifitas seksual. Dari wanita yang melakukan masturbasi dengan kayu yang dibentuk lingga, dari laki-laki yang melakukan onani untuk diambil dan ditampung spermanya, sampai pembunuhan keji dengan menancapkan kayu di kemaluan wanita atau payudaranya, atau laki-laki yang dirusak penisnya.

Pemandangan yang membangkitkan birahi sekaligus kengerian itu kian menjadi-jadi, tatkala kerajaan ini diperintah Caligula. Kaisar ini penderita psikopat. Ia bengis dan kejam. Ia juga hiperseks yang ngawur.

Betapa tidak. Adiknya sendiri disetubuhi. Ia senggamai istri temannya. Ia perawani tiap gadis yang mau dikawinkan, dan ia gelar pesta seks saban pekan. Saat itulah kaum homoseks dan lesbian pestapora. Mereka melakukan persetubuhan massal bersama para heteroseks di kerajaan ini.

Puncaknya, ketika para petinggi kerajaan ini terus menggelar pesta, kerajaan pun mengalami devisit keuangan. Apa solusi raja untuk menutupi operasional kerajaan? Ini yang cukup mengejutkan; istri dan putri para menteri serta senat dilego.

Wanita-wanita itu dijual bebas. Hanya dengan lima keping emas, putri dan istri pejabat terhormat itu bebas diapakan saja. Digagahi secara heteroseks, disodomi, atau disuruh melakukan oral seks dan masturbasi.

Kebijakan yang gila-gilaan ini berakhir tragis. Harga diri para pejabat tinggi itu merasa diinjak-injak. Mereka akhirnya bersekongkol untuk membunuh Caligula. Dalam satu kesempatan, secara bengis para pejabat yang telah kehilangan harga diri itu membunuh Caligula, istri, serta anaknya yang masih kecil.

Kekasih Temannya Diperkosa
Kisah Caligula ini bermula saat ia masih menjadi pangeran. Ia hidup di kerajaan Romawi yang diperintah Tiberius, kakeknya. Sang Kakek sangat otoriter dan keji. Selalu curiga dengan siapa saja, termasuk dengan anak dan cucu-cucunya. Itu pula yang menjadikan ayah dan ibu Caligula mati terbunuh.

Caligula punya teman bernama Macro. Laki-laki itu berperawakan besar, ganteng dan punya loyalitas tinggi. Dialah yang selalu melindungi Caligula dari berbagai ancaman. Baik dari keluarga sendiri maupun dari luar istana.

Suatu hari Macro berkenalan dengan gadis cantik yang bernama Ennia. Ia merupakan dara yang menonjol karena wajah dan pergaulannya. Macro terpana asmara. Ia tertarik gadis ini, dan selalu mencari kesempatan agar bisa berdekatan.

Nampaknya, Macro tak bertepuk sebelah tangan. Ennia yang tubuhnya selalu dibalut kain tipis tanpa penutup buahdada itu menyambut cinta laki-laki yang menjadi pengawal istana tersebut. Mereka pun bercinta. Keduanya merasakan tubuhnya seperti melayang di awang-awang. Pun keduanya telanjang berangkulan di sudut benteng.

Saat itu bulan sedang bersinar penuh. Di sudut benteng istana, Ennia dan Macro sama-sama telanjang sehabis bersebadan. Mereka telentang, merentang tangan, dan membiarkan semilir angin membuainya ke alam impian.

Tapi di keremangan malam, sesosok bayangan berkelebat. Tubuhnya agak ramping. Bergerak dari satu pohon ke pohon yang lain. Di dekat dua manusia bugil yang tertidur pulas itu, sosok ini mendekat. Tangannya merayapi tubuh Ennia. Ia menciumi seperti bayi. Ennia membiarkan. Ia mengira yang melakukan rangsangan itu adalah kekasih tercintanya, Macro.

Birahi gadis ini kembali memuncak. Tatkala itu sudah terjadi, maka dengan sekali sentak laki-laki ini pun melakukan serangan mendadak. Akibatnya Ennia tak mengalami rasa nikmat, tetapi justru kesakitan. Ia menjerit keras. Darah mengucur dari kemaluannya, dan Macro yang tertidur disamping gadis ini terbangun.

Macro bangkit hendak memukul laki-laki yang memperkosa pacarnya. Tapi ketika ia tahu siapa laki-laki telanjang yang ada di atas tubuh Ennia, maka Macro pun melemah. Ia jongkok dan menyembah. Lirih ia berkata, "Silakan teruskan Pangeran."

Macro kemudian membisiki kekasihnya itu, dan menyuruh Ennia untuk memberikan pelayanan yang baik. Macro membantu merangsang pacarnya. Ia juga membantu memegangi Ennia, dan membiarkan sosok pemerkosa itu untuk memuaskan hasrat seksnya pada gadis ini.

Tapi siapakah pemerkosa yang beruntung itu? Jangan kaget, dialah Caligula, Pangeran dari kerajaan Romawi.

Caligula terkapar lemas. Ia membiarkan tubuhnya telentang bugil. Di dekatnya, Macro duduk menjaganya. Sedang Ennia, mau tak mau gadis ini harus melayani nafsu seks dua orang itu. Dan untuk itu, ia harus bekerja ekstra keras lagi.

Bahkan saat tubuh Ennia menegang, gadis ini juga dipaksa untuk melakukan oral seks. Padahal, kalau Ennia sendiri belum berpengalaman. Namun mau dikata apa, dalam kondisi seperti itu, hasrat Ennia harus dipaksakan keluar. Dan ketika permainan sudah mencapai puncaknya, Ennia dipaksa untuk menelan sperma kedua laki-laki yang haus seks tersebut.

Setelah permainan usai, Caligula bangkit. Ia menciumi Ennia. Setelah itu ia rangkul Macro, seperti mengucapkan terima kasih atas pengertiannya. Dengan rasa hormat kekasih Ennia menundukkan kepalanya.

Angin Nakal Telanjangi Drussila
Setelah peristiwa itu, nasib Caligula mengambang. Bukan karena perkosaan yang dilakukannya terhadap Ennia, tapi semata karena tabiat raja Tiberius, kakek Caligula yang sinting.

Kesintingan raja itu membawa korban. Ayah Caligula, Humanikus, mati terbunuh. Juga ibu dan beberapa saudaranya yang lain. Yang tersisa akhirnya tinggal Caligula dan adik perempuannya yang cantik, Drussila.

Sejak itu Caligula keluar istana. Ia meninggalkan Macro, teman akrabnya yang menjadi orang penting istana, Ennia, gadis yang habis diperkosanya, serta para gundik yang selama ini memberinya kepuasan seksual.

Caligula bersama Drussila, adiknya yang cantik, tinggal di sebuah puri yang jauh dari kerajaan Romawi. Puri itu amat indah dan tenang. Suasana pedesaan amat kental. Puri itu dikitari tanaman rimbun. Penuh pohon oak dan cemara gunung.

Di daerah yang indah dan sejuk itu Caligula dan Drussila mukim. Saban hari yang dilakukannya adalah bermain. Main kejar-kejaran, petak umpet, dan menirukan gerak burung. Tingkah laku mirip anak-anak itu sebagai cerminan, bahwa dua remaja yang beranjak dewasa ini sebenarnya sudah mengalami gangguan jiwa. Mereka menderita psikopat akibat hidup dalam lingkungan yang diliputi kebiadaban, kekejaman dan demoralisasi.

Suatu siang, Caligula dan Drussila main kejar-kejaran. Ketika capek, di padang rerumputan, keduanya berjalan berangkulan. Tiba di sebuah pohon besar, Drussila telentang membaringkan tubuh untuk melepas lelah. Ia diam memejamkan mata. Sedang Caligula duduk bersandar pada pohon.

Tubuh Drussila yang padat berisi hanya terbalut kain tipis warna putih. Tanpa bh dan celana dalam.

Di tengah kelengangan alam itu, nampaknya nafsu Caligula terbangkitkan. Tangannya mulai merayap ke dada Drussila. Gadis itu terdiam karena menganggap biasa.

Kebetulan angin nakal bertiup. Kain tipis penutup bagian bawah gadis ini tersingkap. Mata Caligula terkesiap.

Tangan Caligula mulai berpindah. Ia mengelus paha mulus sang adik. Ia memelorotkan tubuhnya, dan berbaring di sebelah gadis ini. Mulutnya menyusuri paha Drussila. Setelah itu ia berguling menempatkan badannya di antara dua kaki gadis ini.

Ciuman Caligula itu menyusuri betis indah Drussila. Pelan-pelan ia merentangkan kedua kaki gadis ini. Kepalanya merambat ke atas. Dan paha bagian dalam gadis ini menjadi sasaran mulutnya.
Birahi Drussila naik. Ia mengatupkan mulutnya. Gadis ini kelihatan tetap tenang, tetapi nafasnya mulai memburu. Sentuhan itu membangkitkan gejolak bawah sadarnya. Ia mulai terjalari birahi.

Caligula secara liar mulai menyerang membabibuta wilayah sensitive sang adik. Lagi-lagi Drussila merintih. Kepalanya digoyang ke kanan dan ke kiri. Tangan Caligula kian atraktif. Kini ia tak lagi segan untuk bereaksi. Dan reaksi itu yang kian membangkitkan birahi Caligula. Sebab ia ingat, bagaimana rintihan serupa terjadi pada gundik dan Ennia yang telah memberinya kenikmatan seksual.

Laki-laki ini dengan beringas memainkan tubuh Drussila. Drussila sendiri lupa diri. Ia merintih dan mengerang. Saat kemaluan Caligula mulai menyentuh kemaluan Drussila, gadis ini tiba-tiba membalikkan badan. Ia membiarkan Caligula terbanting ke samping. Setelah itu, dengan menelungkupkan tubuh, Drussila mengumpat-umpat Caligula. "Aku adikmu. Ini seks yang dilarang," katanya terpekik. (Bersambung)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 2)


(Sebelumnya)

Sang Pangeran Perkosa Adiknya
Malam merayap. Bulan tidak muncul. Kastil indah yang dikitari pepohonan lebat itu tampak kelam. Temboknya yang terbuat dari batu hitam, menambah kesuraman. Kastil itu bisa dikenali hanya dari lilin-lilin yang dinyalakan. Serta lampu redup yang memenuhi sudut ruang.

Drussila tidur nyenyak di kamar. Sprei putih berlapis-lapis, serta bad cover dari bulu domba, menutup tubuh mulus gadis ini. Wajahnya tenang, mulutnya terlukis sesungging senyum. Ia sangat damai di alam mimpi. Dan itu, hanya saat tidurlah bisa dinikmati.

Secara phisik, gadis ini sangatlah bahagia dan sejahtera. Ia cucu raja, dan hidup serba berkecukupan. Tapi jaman berhala yang menaunginya, telah menempatkan gadis ini pada takdirnya. Ia harus menyaksikan berbagai kekejian, dan mengalami berbagai penderitaan.

Ia dipaksa harus mengalami itu. Ia harus melihat bagaimana ayah dan ibunya dibunuh secara keji. Ia harus menyaksikan kekejaman bertahun-tahun di istana yang membuat hatinya goyah. Serta, dalam usia yang relatif muda itu, saban hari ia dijejali pemandangan erotis di lingkungan istana. Pesta seks saban pekan.

Kedamaian tidur Drussila itu amat kontras dengan kondisi Caligula. Laki-laki itu belum beranjak tidur. Ia hilir mudik mengelilingi ruang. Sesekali melongok kegelapan malam, dan kali yang lain menarik nafas panjang. Padahal biasanya, ia sudah mendengkur. Membaringkan tubuh di dekat adiknya, dan melepas kepenatan siang yang terasa begitu panjang.

Laki-laki ini memang sedang digelayuti keresahan. Peristiwa siang tadi belum bisa hilang dari ingatannya. Bukan kesadaran sebagai kakak yang membuatnya resah, tetapi keindahan tubuh dan romantisme Sang Adik yang telah menjadikan hatinya terus gundah.
Ia jadi kagok untuk berbaring di sisi Drussila. Ia merasa tak punya kepercayaan diri untuk tidur bersama adiknya. Sebab ia ragu. Mampukah tidak melakukan rangsangan pada gadis itu seperti malam-malam yang lalu. Sisi lain, kalau itu dilakukan, jangan-jangan sang adik yang juga orang paling disayang, serta teman bermain satu-satunya itu bakal marah. Dan itu artinya, ia akan kehilangan segalanya. Perang bathin itulah yang membuat Caligula resah dan tak bisa mengatupkan mata.
Malam terus merangkak. Di luar kastil, suara burung mulai bersahutan. Dingin menempel di jendela, dan terus merayap memenuhi ruang dalam puri tua ini. Caligula berdiri di balkon dekat peraduan Drussila. Kehangatan mulai menyusup di hati laki-laki ini.
Ia pandangi wajah ayu adiknya. Ia berulang-ulang menarik nafas panjang. Dan makin dipandang, yang muncul bukan wajah Drussila, tapi justru senyum Ennia, Sophia, Yulia, dan para wanita yang selama ini memberinya kenikmatan di ranjang. Jantung Caligula berdegup kencang. Nafasnya memburu, dan otaknya berpikir keras. Adakah ia mampu melawan nafsu itu?

Mata Caligula merah saga. Ia naik ke peraduan. Selimut tebal yang membungkus tubuh Drussila diseretnya pelan-pelan. Kini gadis itu hanya berpenutup kain tipis warna hijau muda yang dibentuk semacam baju tidur. Ia telentang tenang. Tertidur nyenyak di tengah lapisan kain.

Tubuh mulusnya terpampang nyata. Nafas Caligula terengah-engah. Tubuhnya gemetaran menahan nafsu. Tapi untuk melangkah lebih jauh, ia harus sabar dan hati-hati.
Laki-laki ini mulai membaringkan diri disamping Drussila. Tangannya merambat. Tali kain tipis yang mengikat tubuh Drussila dengan busana tidurnya diurai. Dengan sangat hati-hati tali itu dilepas. Dan dengan hati-hati pula, saat kain tipis pembungkus tubuh indah gadis ini sudah terlepas, disingkapnya. Kini tubuh mulus gadis itu tak berpenutup. Drussila menampilkan pemandangan yang menakjubkan. Panorama itu yang membuat birahi Caligula kian mengencang.

Ia memulai aksinya membangkitkan gairah Sang Adik. Ia merapatkan tubuhnya. Ia merangkul adiknya. Saat Sang Adik tidak bereaksi. Ia pilin, pijit, dan tarik-tarik bagian sensitifnya. Memang, reaksi phisik gadis ini belum kelihatan. Namun siku Caligula merasakan, degup jantung gadis ini mulai mengencang.

Caligula terus merayap. Ia mengangkat separuh tubuhnya, dan merangkul ketat tubuh bugil Drussila. Saat itulah Drussila melenguh. Tubuhnya bergerak-gerak. Dalam bawah sadarnya timbul rangsangan. Ia belum tersadar. Ia masih dibuai dalam alam impian. Namun impian yang distimulasi oleh gerakan luar yang terbias ke alam maya.
Reaksi erotis Drussila itu kian menyulut birahi Pangeran ini. Ia tambah bernafsu. Tubuhnya melorot ke bawah. Ia mendaratkan mulutnya di pusar Drussila.
Gadis ini mulai merintih. Ia mulai menggerakkan pinggulnya. Kakinya tambah terbuka.

Dan ruang yang tersembunyi itu kini memberi peluang untuk semakin dirangsang.
Caligula memindahkan posisi. Ia menempatkan badannya di antara dua paha Drussila. Ia mulai menggunakan mulut dan lidahnya untuk membangkitkan gairah. Dan gadis ini terus merintih.

Kini wilayah sensitif gadis itu mulai dibanjiri cairan. Caligula paham tanda itu. Terus dan terus. Sesekali mengelus, kali lain memutar. Ketika dirasa tepat untuk beraksi, Caligula pun menindih Drussila. Ia memasukkan lingganya ke yoni gadis ini. Pelan dan pelan hingga tubuh Drussila bergetar.

Hubungan Seks Sedarah
Drussila mengerang. Ia di ambang sadar. Ada rasa nyeri di selangkangannya. Ada beban berat di atas tubuhnya. Tapi di balik itu, tak bisa dipungkiri, juga ada rasa nikmat yang merambati seluruh tubuh gadis ini. Itu yang membuat Drussila merintih dan mengaduh.

Saat matanya terbuka dan kesadarannya mulai pulih, ia pun menyaksikan tubuh Caligula menindihnya. Ia tak sekadar menindih, tapi sedang berlayar menuju puncak kenikmatan. Nampaknya laki-laki itu belum orgasme. Ia masih dalam tahap menuju ke sana.
Drussila mengumpat. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya, agar Sang Kakak menyudahi memperkosanya. Tapi karena pinggulnya dicengkeram tangan dan ditindih di atasnya, maka dua tubuh itu seperti lengket. Pukulan gadis itu tak membuat Caligula undur. Ia sudah setengah perjalanan menuju nirwana. Ia harus meneruskan langkah, mendaki puncak nikmat. Menyetubuhi adiknya.

Saat itulah tangan Caligula yang mencengkeram gadis ini kian mengencang. Tubuhnya mengejang. Dengus nafasnya memburu. Tapi adakah gerakan itu tak menggugah birahi Drussila? Adakah gadis ini tetap marah-marah dan memukul-mukul tubuh Caligula? Ternyata, ketika Caligula meneruskan memainkan irama romantis itu, Drussila juga terpesona. Pukulan tangannya melemah, dan mulutnya menganga.

Dari mulut itu keluar erangan. Bathinnya seperti diaduk-aduk. Ia diamuk badai nafsu. Tangannya lemah terkulai, dan mulutnya mendesis-desis. Malah, tangan yang tadinya memukuli punggung Caligula itu berubah drastis. Tangan itu kini merangkul ketat tubuh kakaknya.

Dengus Caligula meninggi. Ia seperti sedang berjuang untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan berat. Setelah itu lama berlangsung, dengan pekikan panjang, laki-laki ini tubuhnya mulai mengejang. Kaku, sebelum akhirnya melemah.

Caligula lunglai, diiringi Drussila. Dengan mesra Caligula menciumi pipi dan leher Drussila. Ia berusaha bersikap biasa-biasa saja. Gadis ini dihadapkan pada perasaan yang rumit. Ia merasa, apa yang barusan dilakukan adalah salah. Tapi tak bisa dipungkiri, ia pun sangat menikmati hubungan yang salah itu. Ia telah melakukan
hubungan seks sedarah (incest).

Melihat Caligula biasa-biasa saja, Drussila pun berusaha untuk bersikap sama. Ia mulai bisa mengendalikan perasaan bersalahnya. Tangannya mengusap lembut rambut Sang Kakak, dan menciumi dengan mesra wajah Caligula.

Gadis ini usianya memang masih muda. Tapi secara psikologis ia lebih dewasa dibanding Sang Kakak. Untuk itu ia lebih tegar dalam menjalani hidup. Dan ia lebih dewasa dalam menyikapi berbagai peristiwa yang melanda keluarganya.

Mengingat itu Drussila menangis dalam hati. Ia merasa sangat bersalah. Persetubuhan itu sulit untuk diterima. Tetapi di balik itu ia sangat kasihan melihat sikap Sang Kakak. Laki-laki itu amat goyah. Ia bak itik kehilangan induk. Ia amat kehilangan kasih sayang, setelah ayah dan ibunya tiada. Membayangkan itu, tak terasa, sambil mengelus rambut Caligula, ada butiran-butiran halus mengalir dari mata gadis ini. Drussila menangis. Tangis yang amat dalam untuk direnungkan.

Kini ia bimbing tubuh kakaknya yang masih tergolek di atas tubuhnya. Ia baringkan tubuh itu disampingnya. Disapunya sisa-sisa keringat yang masih tersisa di leher laki-laki ini. Dan ia cium keningnya.

Diperlakukan begitu, Caligula bergelenjot mesra. Ia rangkul adiknya. Tak lama kemudian, laki-laki ini tertidur. Ia merasa mendapat kenyamanan. Ia merasakan kedamaian. Ada yang memberinya perlindungan.

Drussila memang harus menjadi segalanya. Ia harus jadi teman bermain, ibu yang menyayangi, dan kekasih yang memberinya kepuasan seks dan membangun romantisme. Sebagai gadis yang belum makan asam garam kehidupan seks, sebenarnya ia belum siap bagian sensitifnya dijadikan mainan. Secara moral hatinya menolak perlakuan itu, karena yang melakukan adalah kakak kandungnya sendiri. Sedang dari hati kecilnya, sebagai gadis normal, ia juga tak bisa memungkiri, ulah kakaknya itu membangkitkan naluriahnya sebagai gadis remaja. Ia terangsang. Nafsu birahinya memuncak.
Saat Sang Kakak tidur lelap, gadis ini berpikir jauh. Ia harus merenung, dan memilih di antara pilihan-pilihan yang sebenarnya tak layak untuk dipilih.

Tapi pagi itu ia telah memantapkan hati. Rasa sayang dan kasihan terhadap nasib kakaknya telah mengalahkan segalanya. Ia bertekad untuk memberikan segala yang diminta Sang Kakak. Tak perduli itu sangat bertentangan dengan berbagai doktrin kebaikan yang ada.(Bersambung)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI -- CALIGULA (3) -- Caligula Jadi Raja

(Sebelumnya)
Siang di kastil. Caligula sedang bermesraan dengan Drussila di kamar. Keduanya bak pengantin baru. Bercumbu dan bermain seks sepuas-puasnya. Tanpa perlu berpikir panjang, bahwa mereka adalah adik dan kakak.

Saat itulah pintu kamar diketuk dari luar. Ketika terbuka, muncul sesosok laki-laki gagah berseragam pasukan Romawi. Dia adalah Macro. Teman Caligula, yang datang untuk menyampaikan berita dari raja. Caligula dipanggil ke istana.
Raja sendiri sudah sangat tua dan sakit-sakitan. Kalau sampai raja mati, ada tiga nama yang berpeluang menggantikannya. Pertama adalah Caligula yang gagah dan cukup dewasa. Kedua adalah Gemellus, saudara tiri Caligula yang masih kecil. Dan ketiga adalah Claudius, Sang Paman yang terkesan bloon. Namun itu kapan? Sebab para tabib istana terus berjuang keras, agar raja jangan sakit apalagi meninggal dunia.
Hari itu, ketika usia Caligula tepat 24 tahun, raja kembali ambruk. Ia sakit akut. Berbagai kerabat mulai dikumpulkan, dan mereka diminta agar bersiap-siap jika terjadi sesuatu. Saat itulah raja yang terbaring lemah itu memanggil Caligula, dan memanggil juru tulis yang merangkap bendahara istana. Dengan terbata-bata raja memberi wasiat. Jika terjadi sesuatu, maka Caligula yang bakal menggantikannya.

Habis mengungkapkan wasiat itu, raja tak sadarkan diri. Suaranya lirih, tak jelas apa yang dimaui. Caligula pun berinisiatif untuk membiarkan raja sendirian. Ia menepuk tangan, dan seluruh kerabat yang ada pun keluar ruangan.

Kini di ruangan itu tinggal Caligula dan raja Tiberius yang terbaring koma. Saat kritis itu, Macro datang. Sebagai teman setia, Makro bersedia melakukan perintah Caligula, yakni membunuh sang raja. Ia mengambil sebuah selendang. Dengan benda itu raja dicekik hingga mati.

Setelah mengeksekusi raja, Macro beranjak pergi. Ia menyuruh agar Caligula mulai mengambil kekuasaan. Mengumpulkan seluruh kerabat, dan mengumumkan dukacita. Tapi Caligula belum melakukan itu. Ia kini yakin, kekuasaan sudah di tangan.

Balairung. Pesta besar sedang digelar. Para jenderal, senat, dan pembesar istana yang lain hadir. Hari itu Caligula naik tahta, menggantikan raja Tiberius yang meninggal. Ia akan mengumumkan susunan kabinetnya.

Ada banyak yang was-was. Muka-muka cemas menghinggapi para elit politik yang datang. Ada ketakutan di wajah mereka. Takut posisinya yang nyaman selama ini dicabut atau dibatalkan oleh raja baru. Hanya ada satu pejabat negara yang yakin dengan dirinya. Dia adalah Macro, teman sekaligus Menteri Pertahanan Romawi.

Caligula mondar-mandir di ruang utama. Tangannya menggenggam segebok aturan. Tanpa pengantar yang tertata, ia mulai berpidato. Suaranya menggema, terkesan gagap dan gugup. Saat itulah para jenderal mulai berisik.

Caligula sadar kemampuannya diragukan. Untuk menggaet simpati, dengan suara keras Caligula berjanji. Ia tetap memberi hak istimewa bagi para pejabat negara. Dan tetap mempertahankan struktur yang ada. Saat itulah tepuk sorak bergema. Mereka secara aklamasi mendukung raja yang baru itu.

Usai berpidato dan dikukuhkan sebagai raja baru, didampingi para menterinya, Caligula memeriksa pasukan bersenjata Romawi. Wajah-wajah para menteri itu kini ceriah. Mereka merasa posisinya telah aman. Kembali ikut menikmati kemewahan dan kemegahan fasilitas kerajaan.

Namun saat di ruang utama upacara, tiba-tiba Caligula mengajak semua menterinya berhenti. Ia mulai membuka kronologis kematian raja Tiberius. Tiba-tiba Caligula menuding Macro telah membunuh raja.

Macro kaget. Ia ditangkap. Macro tak berdaya. Laki-laki yang loyal terhadap Caligula itu pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia digelandang pergi. Dijatuhi hukuman mati. Habis menjerat Macro, Caligula kembali ke peraduan. Ia menyuruh pengawalnya memanggil Ennia, istri Macro. Wanita yang belum tahu nasib suaminya itu dengan langkah manja mendatangi Caligula. Ia bergelenjot di tubuh Caligula. Dalam bayangannya, tak lama lagi, ia bersama suaminya bakal menjadi orang terpenting dalam kerajaan Romawi, bersama Caligula, Sang Raja, kekasihnya.

Caligula membiarkan sikap manja Ennia itu. Laki-laki ini seperti biasanya, memainkan payudara wanita ini. Dengan ekspresi manja dan minta dipuasi, Ennia menyambut rayuan Caligula itu. Mereka mulai bercinta di sofa. Bergulingan. Bertindihan, untuk saling merangsang birahi.
Setelah itu disusul irama rutin berupa rintihan dan lenguhan selama hampir lima belas menit. Keduanya tergolek lunglai di ranjang. Caligula buru-buru mengenakan pakaian, disusul Ennia. Wanita ini agak keheranan dengan sikap Caligula kali ini. Sebab biasanya ia tak secepat itu. Laki-laki ini awal sampai akhir sangatlah romantis. Tapi hari ini tak seperti itu.

Saat Ennia dan Caligula masih bermesraan di sofa dalam keadaan berpakaian lengkap, pintu pun diketuk. Pintu dibuka para dayang. Saat sudah terbuka, maka di pintu itu berdiri beberapa menteri minus Macro. Ennia pun bertanya, dimana suaminya.

Menteri Pertahanan baru yang menjawabnya. Ia menerangkan tentang apa yang barusan terjadi. Mendengar itu Ennia kalap. Ia marah dan meludahi muka Caligula. Tapi apa yang terjadi? Tanpa ekspresi Caligula menyuruh agar Ennia juga dibawa serta. Wanita itu ikut dijatuhi hukuman mati. Para pengawal disuruh mengangkut Ennia bersama sofa yang habis dibuatnya bercinta.(Bersambung)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 5) -- Caligula Tampar Drusila

(Sebelumnya)

Malam di istana. Seperti biasa, malam itu sedang digelar pesta. Selain makanan dan minuman sebagai menu utama. Yang tak bisa ditinggalkan adalah para wanita. Gadis-gadis telanjang disuruh menemani dan merangsang laki-laki. Dan kalau birahi telah memuncak, mereka pun sah-sah saja untuk disetubuhi di arena pesta itu.

Caligula datang di pesta ini bersama Drussila dan Caesonia. Ada yang berubah dalam diri wanita ini. Tubuhnya tak langsing lagi. Ia agak gemuk. Itu bisa dimaklumi. Sebab perut permaisuri ini kelihatan buncit. Ia sedang hamil.

Ketiga orang terhormat ini dipersilahkan duduk di singgasana tanpa kursi. Mereka bertiga menempati itu. Tak lama kemudian datang tiga gadis cantik. Mereka datang untuk menemani Sang Raja. Mereka telanjang. Duduk manis menunggu perintah. Perintah Sang Raja terhadapnya.

Perintah itu sudah bisa diterka. Kalau tidak untuk ditowel dan dimainkan bagian tubuh sensitifnya. Tentu, ia disuruh untuk merangsang Sang Raja. Rangsangan dari tingkat rendah, hanya sekadar menciumi dan mengelus-elus tubuh raja. Sampai rangsangan tingkat tinggi, memainkan oral seks, heteroseks hingga sodomi.

Itu semua dimaklumi. Raja sebagai simbol kekuatan dan kekuasaan, didalamnya secara implisit juga terkandung kekuatan seks dan pemenuhan kebutuhan itu. Maka tak berlebihan, dimana saja raja berada, maka perempuan cantik selalu tersedia. Caesonia, sebagai permaisuri yang bekas gundik istana, sangat paham soal itu.

Saat Caligula dan rombongan telah duduk, laki-laki ini menepuk tangan. Tiga dara bugil itu pun mendekat. Ia bergelenjot di tubuh raja muda ini, dan dengan buahdada serta mulutnya, gadis-gadis itu menggesek-gesek punggung, paha, dan bagian sensitif raja. Dirangsang seperti itu, Caligula biasa-biasa saja.

Untuk memulai acara, musik pun mulai bergema. Suara dari berbagai perkusi itu menghidupkan pesta. Caligula dengan gagahnya berdiri. Ia mengatakan, hari itu ia ingin bergembira. Dan untuk menyemarakkan pesta itu, ia ingin Caesonia menari.

Mendengar itu Caesonia protes. Ia sudah hamil tua. Tak mungkin itu dilakukan. Kalaulah dipaksa, ia takut akan keguguran. Bayi yang dikandungnya gugur. Protes Caesonia ini juga diperkuat Drussila. Ia menolak keinginan raja.

Caligula bersikukuh. Ia berdiri sambil marah. Ia menampar Drussila, Sang Adik. Drussila pun keluar pesta. Ia lari. Kabur ke kamarnya. Yang mengejutkan, kemarahan Caligula itu membawa korban lain. Seorang prajurit yang berdiri menghalangi, disuruh dibunuh. Ia ditangkap dan digelandang ke ruang eksekusi. (bersambung/JOSS)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 6) - Hamil Wajib Menari Bugil

(Sebelumnya)

Caesonia tak bisa menolak. Ia mulai melepas pakaian yang dikenakan. Satu demi satu busana wanita ini dilepas. Dari penutup payudara sampai penutup bagian bawah. Wanita ini bugil. Tubuh mulusnya tak terhalangi selembar kain pun. Perutnya yang membesar nampak indah. Pusarnya menonjol. Dan di daerah vitalnya, rimbun perdu menggumpal.
Payudara wanita ini sangat indah. Kelihatan montok dan kencang. Bagian itu tak terlalu besar, tetapi jelas-jelas kelihatan subur. Itu sebagai pertanda, usia kehamilan wanita ini sudah tua. Setelah bugil, ia melangkah ke depan. Langkah yang agak ragu dan sedikit tertekan karena merasa dilecehkan.
Musik pun mulai bergema. Geraknya tertata. Ia melenggak-lenggokkan pinggulnya yang mulus dan berisi. Payudaranya bergoyang-goyang menggairahkan. Dan tangannya merentang menirukan gerak burung seperti sering yang diimpikan Caligula.
francesco-vezzol-caligulaSecara berirama, kaki wanita ini bergerak lincah. Tarian yang dibawakan wanita ini begitu mempesona. Menyita perhatian yang hadir. Dan menyihir para laki-laki yang malam itu ikut menyaksikan penampilan wanita mantan gundik yang kini menjadi permaisuri raja itu.
Gerak dari tubuh bugil Caesonia itu membangkitkan nafsu birahi. Ada banyak wajah-wajah menegang yang terbuai dengan gerakan tubuh wanita ini. Namun yang hadir tak berani menggoda atau berteriak kasar. Sebab mereka sadar, yang sekarang telanjang dan menerbitkan birahi itu bukanlah orang sembarangan. Ia adalah permaisuri raja. Salah sedikit saja memberi apresiasi, bisa-bisa nyawa taruhannya.
Caligula nampaknya terpesona dengan penampilan istrinya itu. Ia memberi applaus. Ia menyingkirkan dua gundik yang merayapi tubuhnya. Setelah itu ia berdiri, merangkul, dan mencumbu istrinya yang bugil itu.
caligula_oneCaesonia sebagai wanita yang profesional dalam menservis laki-laki, menyambut cumbuan itu. Tubuhnya bergelenjot mesra. Melalui mulut dan tangannya, wanita ini melakukan perangsangan. Saat Caligula mulai terbangkitkan nafsunya, Caesonia pun dibopong masuk peraduan. Di tempat itulah Caligula dan Caesonia melepas hajatnya. Tapi adakah hanya itu? Tidak, sebab ada prajurit yang harus menjadi korban pesta malam itu? (bersambung/JOSS)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 7) -- Penis Dipotong, Vagina Dibasahi Darah

(Sebelumnya)
Malang nian prajurit istana ini. Hanya gara-gara dekat-dekat raja yang sedang emosi, ia terkena getahnya. Bukan jabatan yang dicopot, tetapi nyawanya yang dipisahkan dari raganya. Ia dieksekusi mati. Kematiannya dilakukan secara perlahan-lahan.
Caligula memang raja yang pemberang. Protes Drussila yang tak setuju kakak iparnya yang sedang hamil besar disuruh menari bugil menelan jiwa. Seorang prajurit yang dekat dengan peristiwa itu langsung dieksekusi.

Prajurit itu digelandang keluar. Di ruang pembantaian, laki-laki itu ditelanjangi. Caligula mencabut pedang dari prajurit yang lain. Dengan sadis ia menorehkan pedang itu ke tubuh prajurit tak berdosa itu. Ia menusukkan pedang itu berulangkali. Dan setelah itu memberi instruksi pada prajurit yang lain agar membunuhnya secara pelan-pelan.

Prajurit yang lain, karena takut, melakukan perintah itu. Ia tusuk perutnya, dan ia penggal kepalanya. Prajurit yang malang itu pun menemui ajalnya. Ia tewas bermandi darah.

Melihat prajurit yang dibencinya itu cepat mati, Caligula marah-marah. Ia menyebut kematian itu terlalu cepat. Untuk melampiaskan kemarahannya itu, raja ini pun menyuruh agar penis laki-laki malang itu dipotong dan diberikan untuk makanan anjing. Dan, tak ada yang berani untuk tidak melakukan instruksi itu.

Saat anjing besar memakan penis prajurit itu, Caligula bersuka cita. Ia merasakan kejengkelannya terobati. Ia pun berteriak kegirangan, dan memanggil Caesonia, permaisurinya.
Ketika wanita hamil besar ini datang, Caligula menyuruh wanita itu membasuh liang peranakannya dengan darah segar prajurit itu. Raja ini menyebut, itu sebagai bagian dari pengalihan kekuatan Sang Prajurit ke bayi yang bakal dilahirkan.

Caesonia pun patuh. Ia kembali menanggalkan pakaian kebesarannya. Ia telanjang bulat. Nampak payudaranya kencang dan padat berisi. Perutnya membuncit. Pusarnya menonjol keluar. Dan bulu kemaluan wanita ini tumbuh lebat menutupi sebagian wilayah yang tersembunyi.

Tanpa ragu wanita itu jongkok mekangkang di atas tubuh prajurit yang mati bermandi darah itu. Ia menempatkan kemaluannya di bekas penis prajurit yang sudah dipotong itu. Darah yang menggenang di daerah itu ia duduki. Ia putar pantatnya, agar darah prajurit itu bisa membasahi sampai ke dalam lobang peranakannya.

Tak puas hanya itu, melalui tangannya, Caesonia meraup darah itu, dan memasukkan ke dalam kemaluannya. Nampak wilayah sensitif permaisuri ini basah kuyup. Darah yang sudah menggumpal itu memenuhi paha, kemaluan, sampai perutnya yang sudah menggunung. (bersambung/JOSS)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 8) -- Caligula Diserang Demam Akut

(Sebelumnya)
Mendung memayungi kerajaan Romawi. Negara yang tak pernah sepi dari pesta itu sedang ditimpa prahara. Wabah demam melanda negeri ini. Banyak penduduk yang pagi sakit sore mati. Dan tak sedikit yang malam sakit pagi mati. Penyakit ini tak cuma menimpa penduduk biasa. Di dalam kerajaan sendiri, wabah itu telah menimbulkan kengerian.

Setelah puluhan nyawa melayang terkena demam, hari itu giliran Caligula yang terkena penyakit yang belum ada obatnya itu. Raja yang biasa berpenampilan gagah itu terbaring lemah di tempat tidur. Keringat membasahi sekujur tubuh raja ini. Dan para tabib istana dikumpulkan untuk menyembuhkan Sang Raja.

Saking panasnya, tubuh Caligula menggigil. Ia resah, dan sering menceracau. Para menteri menunggui raja ini, termasuk Sang Permaisuri, Caesonia. Tapi karena penyakit yang menjarah Sang Raja ini gampang menular, maka semua yang hadir tak berani mendekat pada raja. Ia memberi jarak karena takut tertular.
Demam itu amat menyiksa raja ini. Ia merasa nyawanya tak bakal tertolong. Sebab para tabib sudah memberinya vonis, umur raja tak lama lagi. Penyakit itu sudah menggerogoti tubuh Caligula. Kalaulah para menteri itu berkumpul di dekat raja, itu hanyalah untuk menunggu kapan raja wafat.

Ketika raja sedang stres dan berteriak-teriak melawan maut itu, tiba-tiba seorang menteri nyeletuk. Ia menyuruh raja untuk tenang menghadapi kematian. Ia akan berdoa untuk kebaikan raja dalam menghadapi sakaratul maut.

Mendengar ucapan itu, Caligula yang tadinya sudah koma itu tiba-tiba bangkit. Ia berang. Dengan suara lantang Caligula menyuruh prajurit menangkap menteri itu. Ia memerintahkan menteri itu dijatuhi hukuman mati. Dan para prajurit pun patuh untuk melaksanakan perintah itu.

Saat itulah Caligula memanggil-manggil nama Drussila, Sang Adik. Ia teringat akan kekasarannya menempeleng gadis yang juga kekasihnya itu. Ia meminta agar prajurit menjemput adiknya itu agar datang ke kamarnya. Ia akan menuliskan surat wasiat di detik-detik akhir hidupnya.

Namun belum sempat para prajurit menjemput Drussila, gadis itu sudah lari tergopoh-gopoh. Ia berlarian memakai kain tipis warna putih yang disingsing, hingga pahanya yang putih mulus itu menyilaukan mata. Nampak buahdadanya yang indah bergoyang-goyang diguncang tubuhnya. Dan bagian bawahnya yang tersembunyi secara transaparan kelihatan menonjol seperti bukit yang setengah gundul. Tapi gadis ini tak perduli dengan semua itu. Ia panik mendengar kakak yang sekaligus kekasihnya itu sakit parah. (bersambung/JOSS)

ETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 9) -- Raja Tulis Surat Wasiat

(Sebelumnya)

Drussila masuk ke peraduan raja. Ia histeris melihat kakaknya sedang berperang melawan maut. Gadis ini merangkul kakaknya. Ia mengelap dahi raja yang dipenuhi keringat. Dan menciumi pipi raja yang terserang penyakit akut itu.

Para tabib yang ada di dekat raja mengingatkan Drussila agar tidak dekat-dekat raja.

Mereka berusaha agar gadis ini tak menyentuh tubuh raja. Sebab jika itu dilakukan, mereka takut gadis ini akan tertulari virus demam yang membawa maut itu.
Tapi Drussila tak perduli. Ia tetap melakukan itu. Malah saking tak perdulinya, gadis ini pun sampai lupa menjaga bagian tubuh terlarangnya agar tak dilihat orang.

Maka di balik rasa kasihan melihat raja yang sakit, para tabib dan menteri pun menarik nafas panjang. Mereka tergoda melihat kemaluan Drussila yang terbuka.

Gadis ini merangkul Sang Raja. Ia menciumi dengan sepenuh jiwa wajah Sang Kakak. Dan seperti biasa, dengan watak keibuan, gadis ini menyorongkan payudaranya. Dan kakaknya dengan rakus menciumi dan mengulum payudara Drussila seperti seorang bayi yang sedang netek.

Saat itulah Caligula mendapat ketenangan. Nafasnya tak lagi memburu. Dan ketakutannya menghadapi maut tak lagi nampak. Malah, dengan suara yang tenang ia meminta Longinus, bendahara istana untuk mendekat. Caligula ingin menuliskan surat wasiat, jika umurnya tak lagi panjang.

Menteri Keuangan yang berpenampilan aneh ini pun duduk di dekat Sang Raja. Dengan tertatih-tatih Caligula mulai mendikte. Ia mengatakan, bahwa segala harta benda dan kekuasaan yang ada akan jatuh ke tangan Drussila, jika sampai raja wafat. Dan ia ingin keputusan itu didukung oleh seluruh elit politik kerajaan Romawi.

Habis menulis surat wasiat itu, Caligula tidur tenang. Panasnya tetap menaik, keringatnya tetap membasahi sekujur tubuhnya, tetapi dari raut mukanya tampak, bahwa rasa sakit yang menimpa Sang Raja mulai berkurang. Namun benarkah Caligula akan mati akibat sakit demam? (bersambung/JOSS)






PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 9) -- Caesonia Melahirkan Putra Mahkota

(Sebelumnya)
Caligula ditakdirkan tak mati akibat demam. Ia tetap sehat bugar, dan kembali memerintah kerajaan Romawi dengan gayanya sendiri. Suka pesta minum minuman keras. Seks bebas, serta menghukum sekehendaknya pada siapa saja yang membantah. Malah yang kelihatan agak kurang enak badan justru adiknya, yaitu Drussila.

Setelah kesembuhan itu, seperti hari-hari biasanya, malam itu, istana sedang menggelar pesta. Pesta malam ini agak berbeda dengan beberapa pesta sebelumnya. Sebab pesta yang digelar malam ini adalah pesta menunggu kelahiran bayi. Bayi yang bakal menjadi pengganti penguasa kerajaan Romawi.

Ya, Caesonia, Sang Permaisuri yang hamil besar, malam ini diperkirakan bakal melahirkan. Sebuah upacara besar sudah disiapkan. Wanita itu harus melewati prosesi kelahiran berdasar kebiasaan Romawi.

Sebuah ruang dengan kayu pancang berbentuk salib berdiri megah. Caesonia yang perutnya sudah mulas-mulas dibawa ke tiang itu. Wanita ini ditelanjangi. Nampak perutnya yang buncit. Ia dipapah masuk ke ruangan, dan mulai dinaikkan ke tiang pancang.

Kedua tangannya diikat di kayu salib. Dua kakinya direntangkan sehingga bagian intimnya terbuka lebar. Kaki itu diikat di tiang, dan ia dibiarkan mengaduh kesakitan menunggu keluarnya jabang bayi dari kandungannya.

Hampir semua elit politik hadir. Tak terkecuali Drussila, Sang Adik, yang agak kelihatan sakit, serta Caligula. Mereka menunggu dengan tenang. Yang hadir nampaknya sudah terbiasa melihat kesakitan orang melahirkan dengan cara dipasung seperti itu.

Ketika rintihan Caesonia menggema, yang hadir bertepuk tangan. Mereka memberi semangat. Seorang dukun bayi menyuruh agar Caesonia mengumpulkan dan mengerahkan tenaganya di wilayah bawah. Sedang Caligula, dengan gaya cueknya menerka dan menebak bayi yang bakal dilahirkannya.

Saat itulah terdengar tangis bayi. Bayi merah itu baru sebagian tubuhnya yang keluar dari rahim Caesonia. Seorang dukun bayi membantu mengeluarkannya, dan bayi itu ditentengnya. Setelah keluar dari kemaluan Caesonia, bayi dirawat di bawah kaki wanita ini, dan dibersihkan dari noda darah.

Melihat anaknya sudah lahir, Caligula dengan sikap gugup dan gembira mulai berteriak-teriak kegirangan. Ia menyebut pewaris tahta Romawi telah lahir. Ia adalah putra mahkota yang akan membawa Romawi dalam kejayaan.

Saat itulah Drussila meralat ucapan Caligula. Gadis ini dengan setengah berteriak bilang, bahwa bayi yang dilahirkan itu bukanlah putra, tetapi putri. Sebab memang itulah kenyataannya. (bersambung/JOSS)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 11) -- Drussila Meninggal Dunia

(Sebelumnya)
Caligula nampak terkejut. Ada mimik kecewa terhadap jenis kelamin bayi itu. Melihat perubahan wajah Sang Kakak, Drussila cepat tanggap. Ia langsung bilang, biar wanita, ia bisa menjadi pewaris tahta. Ia bisa menggantikan ayahnya untuk menjadi raja Romawi.

Kalimat Drussila itu membahagiakan Caligula. Raja pemarah itu tak lagi bersungut. Ia kembali bahagia. Ia berteriak-teriak kegirangan. Dengan lantang Caligula mengumumkan kerajaan Romawi bakal melakukan pesta besar-besaran untuk menyambut kelahiran jabang bayi itu.
Sabda pandita ratu. Yang terucap langsung direspons yang hadir. Dalam tempo cepat, keriuhan pesta pun berjalan. Hiruk-pikuk terjadi di dalam istana ini. Makanan dan minuman keras dihidangkan. Termasuk laki-laki telanjang dan perempuan bugil berserak di ruang itu. Pesta gila-gilaan terjadi. Dan adegan sodomi, oral seks, serta heteroseks pun memenuhi aula prosesi kelahiran itu.

Saat para elit politik kerajaan Romawi melakukan pesta massal itu, Drussila merasakan kepalanya pening. Tubuh gadis ini menggigil. Keringat bercucuran. Pakaian tipis warna putih yang dikenakan basah oleh keringat. Nampak guratan dari lekuk liku tubuhnya yang indah.
Gadis ini terduduk di ruang itu. Ia berusaha menghindar dari ruang pesta. Ia berusaha menguatkan diri agar tidak tampak sakit. Tapi kakinya sulit untuk diajak melangkah. Akhirnya ia pingsan. Gadis ini tak sadarkan diri di tengah keramaian suasana pesta yang meriah.
Caligula melihat kondisi Drussila yang mengkhawatirkan, langsung menghentikan pesta. Suaranya menggelegar di ruangan. Ia berteriak histeris. Ia menyuruh adiknya dibawa ke peraduannya. Ia menghentikan pesta. Dan seluruh tabib istana diperintahkan untuk merawat Drussila.

Drussila dibopong ramai-ramai ke kamar tidur raja. Gadis itu tubuhnya sudah lemas tak berdaya. Saat dibaringkan di kamar, gadis ini sudah sangat lemah. Dan yang menakutkan, ketika para tabib yang berusaha mengobati gadis ini ditanya Caligula, semuanya menggelengkan kepala.

Caligula panik. Ia duduk dan merangkul kepala adiknya. Ia melihat wajah Drussila sudah kepucatan. Matanya sayu, dan bibirnya melukis sesungging senyum. Seperti senyum ucapan selamat tinggal.

Saat Caligula menangis histeris, mata Drussila terbuka. Bibir gadis itu kelu. Ia tak mampu mengucapkan kata-kata. Senyumnya kembali mengembang. Tapi itu tak lama. Hanya sekejap. Setelah itu matanya terpejam, dan kepalanya lunglai. Drussila, adik Caligula yang merangkap kekasih, orangtua, dan guru etikanya itu menghembuskan nafas terakhir. Ia meninggalkan segalanya. (bersambung/JOSS)


PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 12) -- Merangsang Birahi Sang Mayat

(Sebelum)

Melihat Drussila meninggal dunia, Caligula seperti tak percaya. Hatinya guncang. Ia panik. Laki-laki ini tak terkontrol lagi geraknya. Ia naik turun ranjang, dan tak jelas apa yang diinginkan. Saat itulah ia berteriak histeris. Ia mengusir seluruh yang hadir di ruangan itu untuk keluar ruangan.
Kini Caligula sendiri di kamar. Ia hilang akal. Ia mendekati patung Dewi Ishes yang selama ini dipercaya sebagai sumber kekuatan, kekuasaan, dan kelanggengan hidup. Di bawah patung ini ia menyembah. Ia menghiba seperti anak kecil, minta agar Drussila yang telah terpisah jiwa dan raganya disatukan kembali.

Tapi patung itu bisu seribu kata. Patung itu tak bergerak dan menjawab permintaan Caligula. Laki-laki ini pun sangat marah. Ia mengumpat dan mencaci patung itu. Dengan kekuatannya ia dorong dan banting patung itu hingga pecah berkeping-keping.

Dengan kebingungan laki-laki ini kembali mendekati mayat adiknya. Ia goyang-goyang dan dengarkan detak jantungnya. Tapi semuanya tetap sama. Drussila terdiam tak bernyawa. Saat itulah, seperti orang kesetanan, Caligula merobek satu persatu kain penutup tubuh gadis ini. Ia telanjangi mayat gadis ini.

Setelah bugil, tubuh Drussila diciumi. Dengan bernafsu, Caligula melakukan itu. Mulutnya bergerak bebas di wajah, leher, dan berhenti di payudara gadis yang telah menjadi mayat ini. Ia kulum payudara itu sepenuh hati. Ia perlakukan payudara itu seperti sumber kehidupan bagi seorang bayi. Caligula merasa tentram dengan melakukan ulah itu. Tapi harapannya agar Sang Adik hidup kembali taklah kesampaian.

Melihat adiknya masih lemas terkulai tak bernyawa, tubuh Caligula melorot ke bawah. Wilayah sensitif gadis ini diciumi dan diraba-raba. Jari tangannya bermain di wilayah terlarang gadis itu. Ia terus melakukan itu sambil nafasnya memburu, berusaha menjiwai sepenuh hati.
Tapi rangsangan itu tak membangkitkan nafsu birahi Sang Adik. Drussila tidak terangsang. Ia tetap terbujur kaku, tak ada tanda-tanda gadis ini akan kembali hidup lagi. (bersambung/JOSS)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 13) -- Caligula Menjadi Gila

(Sebelumnya)

Caligula kini histeris. Ia berteriak dan menggoyang-goyang tubuh Drussila yang telanjang dan lunglai. Laki-laki ini kemudian mendudukkan tubuh adiknya. Ia peluk tubuh itu. Ia dekap erat sambil airmatanya bercucuran. Ia hilang akal membangkitkan adiknya dari kematian.

Tubuh gadis itu kemudian diangkatnya. Ia bopong. Dengan tertatih-tatih mayat Drussila dibawa turun dari peraduan. Mayat itu diangkat ke altar penyembahan. Ia tempatkan mayat adiknya yang bugil itu di singgasana yang biasa menjadi tahta Dewi Ishes. Caligula berharap muncul kemujijatan. Datangnya kekuatan dari dunia lain yang bisa menghidupkan kembali adik terkasihnya.

Namun setelah segala upaya yang dilakukan tak mampu menghidupkan kembali Drussila, laki-laki ini pun putus asa. Ia hanya mampu menangis dan menangis. Dan itu dilakukan di samping mayat adiknya, hingga laki-laki yang sangat berkuasa itu tertidur pulas disana.

Ketika terbangun, para menterinya dengan sikap santun berdiri di dekatnya. Wajahnya nampak sendu, sebagai ungkapan ikut berbela sungkawa. Para pengawal istana juga melakukan gaya yang sama. Saat itulah dengan suara lantang Caligula memberi instruksi negara sedang berduka. Seluruh pesta ditiadakan. Keramaian dihapuskan. Dan penduduk Romawi diwajibkan melakukan perkabungan total. Dilarang tertawa selama masa berkabung!

Saat itulah suasana kelam memayungi kerajaan Romawi. Istana sepi dan mencekam. Raja menanggalkan pakaian kebesarannya. Ia berganti kain hitam. Begitu juga dengan para elitnya. Para pembesar itu tak berani memakai pakaian lain. Ia terpaksa harus berpakaian sama seperti yang dikenakan Caligula.

Raja yang stres ini juga mulai tak kerasan berlama-lama di kamar. Ia berjalan mengelilingi istana. Memonitor para elit politik dan keluarganya. Jika ada yang tertawa di hari perkabungan itu, maka nyawanya akan melayang. Ia dijatuhi hukuman mati.

Istana Romawi kusam. Riuh rendah pesta hilang sudah. Bunyi-bunyian senyap. Saban hari yang terdengar adalah kematian. Orang yang dieksekusi mati. Itu terjadi berulangkali. Akibatnya, suasana istana jadi mencekam. Tak ada yang berani bicara dan berkumpul. Sebab jika itu terjadi dan disalahartikan, maka nyawa bakal melayang.

Memang, instruksi raja soal kerajaan berduka sangatlah ketat. Tertawa, cekikikan, desahan nafas hubungan intim laki perempuan, serta senyuman tak sengaja sekalipun dianggapnya pantangan. Hal-hal itu ditafsirkan sebagai bentuk kegembiraan.

Caligula secara terus menerus menginspeksi kondisi para elit politik yang tinggal dalam istana itu. Raja ini tak pernah diam. Ia berjalan kaki kemana-mana dan melakukan pemeriksaan. Jika ada yang dianggapnya sedang bergembira, Caligula langsung masuk rumah itu. Ia perintahkan para pengawal menyeret yang bersangkutan ke ruang pembantaian, dan disana dibunuh dengan kejam.

Itulah yang menjadikan istana menjelma menjadi kawasan yang menakutkan. Dimana-mana tampak muka-muka tegang. Jika berjalan dan kebetulan kepergok raja, semuanya harus berakting sedih. Lebih terpuji lagi kalau bisa menangis dengan berurai airmata.

Setelah suasana mencekam itu berlangsung lama, suatu hari, Caligula berteriak-teriak tak karuan di dalam istana. Kain hitam yang dikenakan dilebarkan dengan dua tangan. Ia mengepak-kepakkan kain itu. Ia kembali terbius imajinasi lamanya, ingin menjadi burung yang terbang bebas kemana ia suka.

Bicaranya pun mulai ngelantur. Ia merasa telah menjadi dewa. Dewa penguasa jagat raya yang tak ada tandingnya. Caligula berlarian dalam halaman luas istana. Saban bertemu orang ia paksa untuk mengatakan itu. Jika tidak, akan dibunuh.

Setelah mengusik ketenangan penghuni istana, Caligula tiba-tiba meloncat terbang ke luar istana. Ia berbaur dengan rakyat jelata yang nasibnya amat menderita. Ia hidup liar disana. Dan bahaya sedang mengancam raja. Sebab kemelaratan sedang terjadi dimana-mana, karena urat nadi ekonomi rakyat semuanya disedot masuk ke dalam istana. (bersambung/JOSS)

PETUALANGAN CINTA RAJA CABUL ROMAWI — CALIGULA (Bagian 14) -- Caligula Merantau Keluar Istana

(Sebelumnya)
Suasana Romawi di luar tembok istana sangatlah kelam. Kemiskinan merajalela. Rakyat kelaparan. Perampokan dan penjarahan hak milik terjadi dimana-mana. Dan martabat wanita sangatlah rendah. Ia diperjualbelikan bebas. Malah organ tubuh tersembunyinya bisa dijual secara eceran. Colek dan remas payudara ada harganya. Dan pegang serta permainkan kemaluan perempuan, harga yang lain lagi.

Caligula ada di daerah yang kumuh dan kacau itu. Raja ini memakai pakaian hitam dekil, sama seperti yang dikenakan rakyat kebanyakan. Hanya, agar wajahnya tak dikenali, ia memakai penutup kain hitam, untuk menyembunyikan sebagian wajahnya.

Raja yang gemar pesta itu seperti orang asing di negeri sendiri. Kini ia harus menghadapi kenyataan hidup. Tak ada pengawalan istimewa. Tak ada perlindungan. Dan harus berperang melawan hidup yang keras dan ganas di masyarakatnya sendiri yang hidup papa.

Caligula harus menghindari berbagai cekcok yang terjadi. Ia perlu melakukan perlawanan jika ada yang akan menodongnya. Dan sewaktu-waktu, terutama jika ada yang mengenalinya sebagai raja, maka jiwanya bisa melayang sewaktu-waktu. Sebab rakyat Romawi telah menaruh dendam. Mereka menganggap, kemelaratan yang mereka jalani akibat kebijakan raja yang hidup hura-hura dan foya-foya.

Tapi raja yang sudah sakit jiwa itu tak memperdulikan semua itu. Ia tegar hidup di tengah kekacauan, karena tak menyadari bahaya yang tersembunyi di balik semua itu. Malah ia seperti keasyikan. Ia merasa menjadi hero sekaligus dewa, yang punya kekuatan metafisis dan bebas kemana saja dan mau berbuat apa saja.

Petualangan Caligula di luar istana itu akhirnya sampai di kerumunan massa. Ia menyeruak disana. Tampak pertunjukan teater rakyat sedang digelar. Lakon yang digelar adalah kisah tentang dirinya. Para seniman itu sedang melempar kritik terhadap arogansi raja. Ia juga mengecam hubungan intim Sang Raja dengan adiknya, Drussila.

Ketika seorang pemain yang berperan sebagai Drussila muncul ke panggung, emosi Caligula tak terbendung. Ia mengamuk. Ia maju ke tengah tontonan itu, dan membabibuta merusak pagelaran yang berjalan.



Diposkan oleh novi471 di 19.44 0 komentar
Label: artikel, cerita, dewasa, kisah, sejarah, sosok

sumber dari :http://kiftiya.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar